Perjanjian dan Kepercayaan

Mei 14, 2008

Lusa makan siang lalu, tercipta percakapan soal perjanjian dan kepercayaan. Saya mencoba mendengar dan mengerti.

“Perjanjian itu tidak bisa dong, dibangun berdasarkan distrust. Ketidakpercayaan. Perjanjian itu dibangun dari kepercayaan. Bagaimana orang mau bekerja apabila tidak dipercaya dulu? Haha, gaji mu aku bayar 30% saja dulu ya. 70% nanti setelah pekerjaan selesai. Coba, misalnya. Orang menikah. Ya, tidak mungkin seseorang menikah itu karena tidak percaya. Nah, jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana, baru dibuat pasal-pasal apabila terjadi pelanggaran”.

2 Tanggapan ke “Perjanjian dan Kepercayaan”

  1. ompiq Berkata

    ehm…kayaknya perjanjian (apalagi dalam bentuk kontrak) tuh dibuat justru karena ketidakpercayaan.

  2. za Berkata

    Waduh, apa iya segitu parahnya ya ketika kita membuat kontrak? Apa artinya kalau hidup hanya transaksional?

    Yang paling parah itu, upah yang ditahan dan hanya dibayar 30%. Sudah seharusnya pihak manajemen yang berada di atas menanggung risiko pekerjaan. Bukan dengan menahan upah agar pekerja tidak lari.

Tinggalkan Balasan