Setelah diserang morning headache, akhirnya aku memulai juga aktivitas hari ini. Biar tidak akan bisa datang ke kuliah tepat waktu, dengan langkah semangat aku berjalan.
Motor aku parkir di daerah Geodesi. Matahari bersinar terik. Segera saja aku menuju ruang kuliah. Di ruang kuliah, aku membalas beberapa SMS. Termasuk membalas satu SMS soal kabar bahwa kawan saya semasa SMA, Denny Satria, meninggal dunia. Banyak kenangan bersama yang aku habiskan bersama Denny. Menonton bola SEA Games di Senayan, numpang kencing di hotel, bermain timezone untuk mengejar menukar tiket dengan bola, juga jalan-jalan ke Dufan. Namun kejadian di bulan Agustus tahun 2000, membuat banyak perubahan antara aku dengan Denny.
Kuliah usai, bergegas aku bergegas karena dikejar si cantik report. Beberapa ratus meter motor berjalan, kok terasa ada yang aneh. Ealah, ternyata kempes. Yo weis, mau gimana lagi. Dengan langkah perlahan berusaha tetap semangat, aku tuntun motor ke tempat tambal ban terdekat.
Sempat dicegat satpam karena sepertinya aku mencurigakan. Hihi… untung STNK selalu ada di dompet. Sampai di tempat tambal ban, aku pikir bocor saja.
Hwrakadah! Ban motor terbelah menjadi dua dengan garis potong berupa beberapa garis tidak lurus yang linear.



Juni 24, 2008 pada 6:22 am
itu bukan meledak, tapi gembes ‘digeladag’ wae
artinya dirimu terlalu sibuk untuk mengurus sebuah motor hehe
Juni 24, 2008 pada 10:55 pm
kena paku, tetap ditunggangi yah sobek. Lain kali cabut dulu pakunya.
Juni 26, 2008 pada 4:10 pm
Digeladag maksudnya, didiemin, Wan? Iya Mas Mul, perasaan ku gak kempes ah. Hipotesaku meledak. Soalnya, aku parkir di tempat yang panas, Mas Mul. Sobeknya melintang, bukan membujur. Aku nggak punya kamera digital sih, jadi tak ada gambar.
Harusnya aku punya supir ojek ya Wan. Hihi.
Juni 26, 2008 pada 5:20 pm
digeladag itu tetap ditunggangi walau gembes. Kalau sobek melintang itu karena disobek
. Yah u ini termasuk korban yang lugu
. Aku pernah punya pengalaman, pulang dari lab (jam 10 malam) motor yg diparkir sedikit gembes jadi masih bisa ditunggangi. Khawatir nanti tambah gembes di tengah jalan, aku tambalkan di tambal terdekat dari ITB. Setelah dibuka, kok sobek melintang! Itu nggak logis babar blas. Karena :
1. Kalau sobek karena di geladag mestinya sobek membujur.
2. Kalau benar2 sobek, pasti sudah kempes habis sejak diparkiran, tidak mungkin bisa ditunggangi lagi.
so, gue ga mau beli ban dalam disitu. Mendingan repot jalan kaki cari ban ke tempat lain. Ternyata tambal ban di belakang ITB walau sudah tutup, masih bisa buat beli ban dalam bekas. Gituuuu.
Juni 27, 2008 pada 7:37 pm
Ndelalah, oooh itu tho artine digeladag. Perasaan aku gak digeladag kok Mas Mul. Sampai tempat parkir, masih baik-baik aja.
Aku sobeknya melintang. Jadi apa sebabnya, Mas Mul?
Juni 27, 2008 pada 8:52 pm
Nah itu za, tidak mungkin ban dalam meledak karena panas. Misalkan udara dalam ban memuai sehingga menekan ban dalam. Ban dalam kan masih tertahan ban luar dan velg
. Maksudnya “perubahan fisik” dari karet ban dalam tertahan ban luar dan velg. Coba kamu adakan investigasi, misalnya pada para pengguna motor di kampus. Apakah mereka yang menambal ditempat itu juga sobek melintang
. Kalau menurut saya, itu disobek dengan alat waktu ban luar dilepas.
Jadi waktu datang ban ok.
waktu mau pergi ban kempes, kemungkinan:
1. Memang ada bocor dikit, lama2 habis.
2. Dikempesin/dibocorin
Nah waktu ban luar dibuka, ban dalam disobek gitu. “wah mas bannya sobek”. hahahhahaha.
Aku punya pengalaman lagi ngebut ban dalam belakang “meledak”. Akibat pemasangan dop pentil yang miring, tidak tegak lurus, maka lama-kelamaan sambungan pada dop pentil lepas. Seketika juga langsung gembes habis. Tapi yah tidak sobek melintang atau membujur.
.
Juni 27, 2008 pada 8:55 pm
“Beberapa ratus meter motor berjalan, kok terasa ada yang aneh.” —> sambil ditunggangi? digeladag? Tapi kalau digeladag mestinya sobek membujur.
Juni 27, 2008 pada 8:57 pm
Wah, aku gak kepikiran sampai sana Mas Mul. Iya, bisa aja ya, tukang tambal ban yang menyobek banku melintang.
Iya, sambil aku tunggangi. Harusnya kalau aku tunggangi sobek membuju ya Mas Mul.
Wah, bahaya juga nih, tukang tambal di perempatan Ganesha.