Menulis Sendiri

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya

Saya selalu menghargai mereka yang menulis sendiri. Berusaha belajar mengungkapkan, menyampaikan dengan cara, pilihan kata-kata, berikut gaya bahasanya sendiri. Memang tidak semua orang terbiasa mengungkapkan dengan tulisan. Namun tak pernah ada ruang tertutup untuk mereka yang selalu mau belajar.

Di era informasi yang tumpah ruah ini, semakin banyak sampah informasi. Dulu saya sempat dimarah-marahin teman-teman di milis angkatan. Gara-garanya saya melarang mereka yang meneruskan email (forward) tanpa memberikan komentar (sedikitpun tak masalah) atas isi email yang diteruskan.

At least put your opinion about that email before you let other people read it. Menurut saya cara ini bisa mengurangi hoax. Itulah mengapa saya lebih tertarik membaca blog, microblogging orang lain dibanding membaca berita di Internet. Ada faktor keunikan di situ. Untuk membaca berita, saya tetap memilih koran konvensional.

Lawan dari sampah informasi malas? Hah kok bisa malas? Lha semuanya bisa dijawab Google. Jadi akankah tercipta percakapan kaku, saat kita berinteraksi dengan orang lain. Just ask Google!. Tidak! Jangan sampai itu terjadi. Kemampuan menjelaskan kepada orang lain tetap satu hal yang penting.

Bentuk kecerdasan yang baru lainnya adalah kemampuan bertanya. Saya sudah pernah cerita soal ini belum ya? Cukup dulu deh. Sekarang saatnya kembali menulis!


About this entry