Resensi 9 Summers 10 Autumn

Kali ini saya ingin meresensi buku 9 Summers 10 Autumn, karya Iwan Setyawan.

9 Summers 10 Autumn

Pertama kali saya tahu buku ini adalah akibat efek getok tular, salah seorang kakak kelas saya yang melanjutkan pendidikan Master dan Doktornya, di New York. Yah, New York City, Amerika Serikat. Salah satu kota besar di dunia.

Saya mengetahui nama Iwan Setyawan ini pertama kali dari kredit foto kakak kelas saya tersebut. Awalnya saya kira ia adalah wartawan Kompas. Eh ternyata salah.

Efek dari getok tular tersebut, saya jadi mengikuti akun twitter Iwan Setyawan ini. Sudah lama saya berencana membeli buku ini, menunggu saat yang tepat. Awalnya saya berencana membeli saat ada acara diskusi. Bertemu dengan penulis langsung, bagi saya merupakan sebuah kelengkapan dari membaca buku. Rencana ini batal karena acara ternyata terbatas.

Akhirnya saya membeli buku ini di Gramedia Matraman, usai menyerahkan SPT pajak. Di akun twitter, saya membaca begitu banyak kesan-kesan mendalam yang disampaikan pembaca lain, saat membaca 9 Summers 10 Autumn ini.

Tibalah saatnya membaca. Saya membaca buku ini cukup cepat, tak lebih dari 3 hari. Beberapa kesempatan membaca adalah saat menunggu atau di dalam kereta.

Satu kata untuk buku 9 Summers 10 Autumn ini: Iwan Setyawan terlalu dalam menulis

.

Terlalu dalam, dalam artian negatif. Menurut saya, seharusnya Iwan bisa lebih mengeksplorasi pengalaman-pengalaman yang menantang, menarik dan lucu, hingga menggugah inspirasi untuk berjuang. Ok, ini memang subyektif. Setelah saya menyaksikan Iwan tampil di Kick Andy MetroTV, barangkali memang karakternya adalah seseorang yang melihat begitu dalam ke dalam dirinya sendiri. Melow(?).

Beberapa harapan saya dari buku ini yang saya tak temukan, yang paling utama adalah pengalaman merantau selama 9 Summers 10 Autumn-nya di New York.

Buku ini bercerita runut, ok tak terlalu runut. Dimulai dengan pengalaman Iwan yang hampir ditusuk saat tiba di New York, lalu waktu mundur dari masa kecilnya, penggambaran kedua orang tuanya, kakak-kakaknya, hingga adik-adiknya. Berlanjut bagaimana ia pergi kuliah, mengapa ia memilih untuk tidak aktif di kegiatan di kampus, melamar pekerjaan di perusahaan besar di Jakarta, hingga akhirnya ia mendapat tawaran bekerja di New York.

Detail tulisan Iwan, menurut saya bagus. Ia menulis dengan begitu detail. Nama taman, stasiun di New York. Bagaimana ia melukiskan keadaan, dst. Menurut saya, cerita di buku ini sangatlah privat, dan Iwan mengungkapkannya. Tak masalah. Ia menciptakan tokoh rekaan, seorang anak kecil, berpakaian baju SD merah-putih, sebagai tempat ia bercerita. Kutipan-kutipan penulis Rusia, Doestoevsky (ejaan?), menurut saya terlalu banyak dan jadinya mengganggu.

Akhir kata, menurut saya tulisan Iwan enak dibaca. Ya tapi itu, terlalu dalam. :-)

About these ads

11 comments

  1. Ping-balik: Resensi 9 Summer 10 Autumn « Autumn♡
  2. Fairuz · Juni 21, 2011

    “Beberapa harapan saya dari buku ini yang saya tak temukan, yang paling utama adalah pengalaman merantau selama 9 Summers 10 Autumn-nya di New York.”

    Aku setuju sekali dengan pendapat bang zaki yang ini..

    Karena alasan ini pula, buku ini, menurut aku pribadi, jadi menjenuhkan.

    Berbeda sekali dengan buku inspiratif seperti Laskar pelangi, Negeri 5 Menara, dll.

    • za · Juni 21, 2011

      Hihi kita termasuk pembaca yang sama-sama kecewa dong. Tertarik nonton filmnya? Kekecewaan saya bertambah karena sebelumnya saya membaca “Garis Batas” Agustinus Wibowo yang bercerita penuh pengalaman.

  3. vayastra · Juni 21, 2011

    Baru baca juga bukunya, 2,5 jam cukup karena ga terlalu tebal jg, cenderung mahal hrg bukunya kalo dibandingkan kualitas isinya,, googling pengen tau jg kesan org, eh ternyata ada jg yg ‘seiman’. Jujur aja saya malah mual setelah baca buku ini, terlalu narsis dan memuja kehebatan diri sendiri.
    Ekspektasi utk lebih ekplore ttg pengalaman di NY kandas karena isinya melulu tentang ke’mellow’an hidupnya.
    Jauh sih klo dibandingkan dgn penulis buku ttg cerita perjlnan lainnya.

    • za · Juni 21, 2011

      wah senangnya bisa saling berbagi kesan setelah membaca :-) Salam kenal.

  4. Ping-balik: Apa Buku yang Terakhir Anda Baca? | Zaki Akhmad
  5. array · Juni 21, 2011

    Lom baca bukunya, tapi da liat filmnya,, seperti film drama tv,, atw drama 17 agustusan,, not recomended

    • za · Juni 21, 2011

      Waduh filmnya juga tidak bagus berarti.

    • Sinta · Juni 21

      iya filmnya kurang drama drama gitu..

  6. Astari Yanuarti · Juni 21, 2011

    sepakat dengan resensi buku yang dituliskan di atas. dan, setelah nonton filmnya kemarin, saya malah jadi mengasiani iwan. sungguh kasihan, melihat hidupnya yang sangat sunyi itu. dan kalau yang disebut sebagai inspirasi adalah kehidupan yang sunyi di tengah hingar bingar NYC, saya memilih menjadi orang yang tidak terinspirasi.

    adegan pembuka di filmnya sama seperti di buku. dan melihatnya sudah memualkan. masak ngadepin “preman” aja selemah itu. tidak ada perlawanan sama sekali. sama sekali jauh dari kata inspiratif.

    • za · Juni 21, 2011

      Awalnya saya berharap mendapatkan cerita seru selama 9 Summers 10 Autumns di NYC, tapi ternyata… Ya itu.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s