Apakah ada waktu bekerja dan waktu untuk tidak bekerja dalam hidup Anda?
Bagi kita yang termasuk dalam kelas pekerja (wah menganut paham kapitalis nih
), bekerja sederhananya dibuat waktu kerja. Waktu ngantor. Eight to five atau nine to five. Atau sesekali lembur. Semua terhitung. Dari mulai masuk kerja, hingga keluar. Gunakan absensi sidik jari jika perlu.
Pada beberapa lingkungan, sistem ini bisa bekerja. Atau memang lingkungan ini membutuhkan sistem seperti ini untuk bisa bekerja. Tingkat produktivitas diukur dari jam kerja.
Oh ya, ini tidak bermaksud membahas benar/salah lho ya. Hanya berusaha memberi pandangan masing-masing sistem.
Contoh ekstrim dari sistem terukur ini adalah produktivitas pabrik. Semakin lama bekerja maka produktivitas pabrik akan terus bertambah. Dalam artian produk yang dihasilkan semakin banyak. Sederhana saja kan? Tak perlu ambil pusing.
Namun ternyata tidak semua produktivitas lapangan kerja dapat diukur menggunakan cara pabrik ini. Atau barangkali persisnya tidak semua profesi dapat mengikuti pola kerja pabrik. Khususnya lapangan kerja kreatif (pembahasan mengenai apakah tidak ada lapangan kerja yang tidak kreatif tidak akan dibahas di sini). Misalnya profesi: penulis, pelukis, … termasuk juga pemrogram? Ya, bisa termasuk. Pola pengukuran ala pabrik ini memang tetap bisa digunakan namun hanya sebagai pendekatan. Tidak bisa diikuti begitu saja.
Tadi pagi di 1/3 malam akhir, saya mencoba membaca buku. Ternyata enak! Suasananya senyap dan menenangkan. Memang sesekali Zaidan kakinya nendang-nendang.
Jadi, yang ingin saya sampaikan setiap profesi memiliki caranya sendiri-sendiri dalam menjalankan perannya. Dan mengutip lcamtuff penulis Tangled Web, 7 miliar manusia semakin terhubung dengan beragam perannya.
sepakat… tidak semua produktifitas kerja dapat diukur dengan menggunakan jam kerja (cara pabrik)
Sip! Tapi jangan jadikan alasan untuk kerja malas lho ya…
yoiii klau malas itu gak ada obatnya..
Saya pilih tipikal seniman aja, hehe