Dari judulnya, tulisan ini rasanya akan kurang menarik. Temanya lingkungan. Anggap saja sebagai tulisan ekstra dari tulisan-tulisan sebelumnya.
Usai Summit, kami memutuskan pergi ke tengah kota Lisbon. Acara Summit sebenarnya bukan diadakan di Lisbon, tapi di pinggiran kotanya. Bus yang kami naiki menurunkan kami di jantung kota Lisbon. Restaudorres, seingat saya nama tempatnya.
Saya, Cecil dan Fazli, kami bertiga menjelajahi kota Lisbon. Karena ada sesuatu yang dicari, persisnya: sikat gigi/odol atau makanan ringan (dan juga air putih?), kami memutuskan pergi ke minimarket.
Saat selesai membayar, saya menaruh odol di dalam tas hijau saya. Di belakang saya, Fazli juga usai belanja. Ia tidak membawa tas. Jadi terpaksa ia meminta tas plastik.
Lalu tiba-tiba petugas kasir meminta sekitar 0.5 (atau 0.2 ya?) Euro untuk tas plastik belanjaan Fazli.
Jadilah total belanjaan Fazli ditambah dengan biaya plastik kresek. “Oh okay, I’ll pay”, begitu ujar Fazli.
Waduh saya kaget juga. Ternyata di Lisbon sudah ketat juga penggunaan plastik kresek. Menurut saya ini adalah hal bagus yang perlu diterapkan juga di Indonesia. Kita harus mulai membiasakan mengurangi penggunaan plastik kresek. Hal ini bisa dimulai dengan membiasakan membawa tas belanja sendiri.
Plastik kresek barulah satu hal kecil dari permasalahan sampah yang ada. Lainnya adalah pemilahan sampah, daur ulang, hingga penimbunan.

Ping-balik: Kaleidoskop 2012 | Zaki Akhmad
Ping-balik: Mulai Memisahkan Sampah Organik vs Non-organik | Zaki Akhmad