Pernahkah kau naik Kopaja tanpa kenek?
100 Tahun Lagi
100 tahun lagi.
Untuk apa? Mengapa tidak sekarang? Dengan latar belakang pendidikan teknik, yang mengutamakan memecahkan masalah sekarang, konsep ini pada awalnya sulit untuk saya terima.
Seiring berjalannya waktu, (dan juga berarti saya semakin bijak) saya menyadari konsep ini tidak salah.
Tak perlu semua orang memecahkan masalah yang ada hari ini. Ada sebagian orang yang memang sedang mempersiapkan segala sesuatu yang bukan untuk hari ini. Untuk masa depan. Kelak. Bisa jadi 100 tahun lagi.
Kalau ditarik ke sisi praktis, olahraga adalah salah satu yang manfaatnya masuk “100 tahun lagi”. Olahraga rutin di masa muda akan membuat masa tua dijalani dengan badan yang sehat. Olahraga menjadi kebutuhan. Bukan melulu kebutuhan pergi ke mal setiap minggu.
Jika kita masih suka segala sesuatu berharap bisa selesai dengan cara instant, berarti kita tak pernah belajar bagaimana memaknai akar permasalahan…
Menulis dan Kemewahan
Menulis merupakan sesuatu yang mewah. Tak setuju? Coba saja menulis. Tak setuju juga? Coba menulis dengan konsisten.
Sama dengan membaca, menulis ternyata sesuatu yang mewah. Sesuatu yang mahal. Sesuatu yang tidak mudah dilakukan. Sesuatu yang perlu perjuangan dalam melakukannya. Apalagi untuk bisa konsisten.
Saya suka menulis karena saya merasa bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran saya. Menulis membantu saya melacak apa saja yang perlu dan sudah lakukan. Dengan menulis saya mencoba berbagi dan berkontribusi.
Tanpa Pembantu
Tak terasa, sudah lama juga kami hidup berkeluarga tanpa pembantu. Ada suka dan tentu ada lelah. Tapi tentu ada kebahagiaan di setiap waktunya.
Hidup tanpa pembantu berarti adalah hari-hari saat tidur larut malam dan bangun di pagi hari. Saat terjaga sudah ada beberapa pekerjaan terlintas di otak.
Beberapa ya, bukan hanya satu. Dan saya pun suka terbawa cara pikir engineer bagaimana melakukan beberapa pekerjaan tersebut. Khususnya pekerjaan yang sifatnya sequential. ataupun pekerjaan yang bisa dilakukan secara paralel.
Contoh pekerjaan yang perlu dilakukan berurutan adalah mencuci dan menjemur. Saya berusaha agar mencuci dilakukan di luar pukul 17-22. Menghindari waktu beban puncak, begitu kata PLN. Jadi lah saya men-set waktu mesin cuci untuk menyala di pukul 2 atau 3 pagi yang akan selesai kurang lebih pukul 5 atau 6 pagi. Jadi sebelum mandi pagi, jemur pakaian dulu.
Pekerjaan yang saya lakukan paralel biasanya adalah menyiram tanaman dengan sesuatu hal lain. Jadi selang saya tinggal mengucur pada titik tertentu di halaman selama t waktu, sambil saya mengerjakan sesuatu hal lain ini, lalu kembali lagi ke halaman memindahkan posisi selang.
Dari pengalaman, waktu yang paling sulit adalah waktu untuk menyetrika. Sejak SMA dulu, saya sudah berpikir, bagaimana menciptakan baju yang tidak perlu disetrika.
Menyetrika kemeja dan celana panjang. Ini yang sulit. Kalau kaos sih bisa cepat.
Hidup tanpa pembantu berarti berada di rumah serasa berada di dunia yang penghuninya hanya keluarga sendiri. Bisa bebas bernyanyi, lompat-lompat, dan obrol apapun. Tak perlu sungkan. Tak perlu memikirkan menyiapkan makan bagi pembantu.
Privasi milik sendiri.
Cabe Rawit KW
Belakangan ini saya merasa cabe rawit yang saya makan tidak lagi pedas. Kalau zaman dulu, makan risol di tukang gorengan, lalu makan juga cabenya, saya bisa kepedasan. Sekarang? Tidak. Cabe yang dimakan lebih dahulu pun tidak meninggalkan jejak pedas.
Lanjut ke tukang ketoprak. Saya masih ingat saat kecil dulu, saat saya bilang cabenya tiga ke tukang ketoprak, maka rasa ketoprak sudah pedas. Sekarang? Biarpun cabenya sudah tiga, yang terasa adalah manis dari gula jawa.
Ke mana cabe yang pedas itu?
Cabe yang pedas masih bisa saya rasakan saat saya beli kue basah di toko seperti Ma’cik. Nah klo makan risol Ma’cik dengan cabe, lidah masih hush-hush kepedasan.
Apa harga cabe juga sebenarnya mahal mengikuti bawang? Jadi yang dijual tidak pedas ini adalah cabe dengan kualitas rendah.
Oh ya sekadar informasi, harga bawang ternyata belum turun. Dua atau tiga minggu yang lalu, saya beli berambang (bawang goreng) harganya masih naik 2 kali lipat.
Sauna di Transjakarta
Beberapa hari lalu, seperti biasa, saya pulang menggunakan Transjakarta. Apa memang kota Jakarta begitu baik hingga memfasilitasi para penumpang di Transjakarta ini untuk sauna hanya dengan membayar Rp 3500?
AC bus Transjakarta yang saya naiki ini ternyata mati. Bus terisi penuh. Bus baru berjalan satu halte, saya mulai terasa lemas karena menghirup CO2 dari para penumpang.
Sang petugas menghubungi manajer-nya. Di halte berikutnya, diputuskan semua penumpang harus turun. Suasana bus begitu panas. Sang petugas meminta supir membuka pintu saat bus masih berhenti karena lampu merah. Pintu kembali ditutup saat bus berjalan.
Sebagai pengguna transportasi publik, saya pernah berpikir bahwa memang sebaiknya harga BBM itu mahal. Walau tak dipungkiri hal inipun akan berimbas langsung pada saya.
Masa depan itu (seharusnya) ada di transportasi publik. Menurut saya, mobil pribadi baiknya hanya digunakan di akhir pekan saat bepergian bersama keluarga.
Tak tahan gerah, saya mencoba membuka jendela atas bus Transjakarta. Lumayan, ada angin sepoi-sepoi. Begitu turun dari bus ini, saya langsung beli minuman segar untuk meredakan kepanasan…
Sauna di (Trans)Jakarta cukup dengan Rp 3500…
Perasaan Senang dan Kreativitas
Beberapa waktu dulu, saya sempat menulis twit, yang isinya kurang lebih, “Saat otak merasa senang, baru kreativitas akan keluar”. Yah, kita perlu perasaan seperti itu saat mengerjakan sesuatu.
Tapi pada praktiknya, kita tidak bisa selalu dalam kondisi seperti itu. Mendadak saya jadi ingat pesan Barney, bahwa kita pun perlu belajar melakukan hal yang tidak kita sukai.
