Melihat Jauh

Semakin hari, semakin kita jarang melakukannya. Melihat jauh.

Kota semakin hiruk pikuk. Ekonomi terus tumbuh yang berarti pembangunan di mana-mana. Tak ada lagi taman luas. Yang ada hanya hanyalah perumahan dan minimarket.

Tak ada lagi ruang kosong. Ruang untuk mata menerawang melihat jauh ke depan.

Ditambah lagi dengan kehadiran smartphone. Mata selalu memandangnya. Hingga kita merasa ada yang hilang saat tak muncul notifikasi. Kita lupa, bahwa dalam perjalanan ada pemandangan yang perlu dinikmati.

Mata kita terpaku untuk selalu melihat smartphone. Hingga tak lagi peka terhadap lingkungan sekitar.

Martabak Toblerone

Akhirnya, kemarin sore saya mencoba membeli martabak Toblerone. Sebelumnya, martabak Toblerone ini sudah ramai dibicarakan dari mulut-ke-mulut (word of mouth). Yang saya dengar, penjual martabak Toblerone yang tersohor ada di daerah Pecenongan.

Woow!

Saya tak ke Pecenongan. Saya beli martabak Toblerone dekat rumah saja. Harganya cukup fantastis untuk ukuran martabak. “Harganya lebih mahal dari steak”, komentar istri saya. Harga martabak Toblerone yang saya beli adalah Rp 60.000!

Saya pun mencicipi. Toblerone-nya terasa. Manis. Cokelat. Karena saya makan sendiri, jadi rasanya lama kelamaan terlalu manis. Atau karena saya yang sudah manis? #eeaa

Waktu yang Menghilang

Akhir pekan berakhir sudah. Hari ini sudah hari Senin. Ada rapat di pagi hari. Bangun sebelum azan Subuh berkumandang. Siapkan sedikit sahur. Ambil kain pel. Pel rumah sejenak. Mandi pagi. Berangkat. Hujan. Tiba di tempat rapat 20 menit sebelum jadwal.

Rapat dimulai 30 menit terlambat dari jadwal. 50 menit menunggu. Rapat 30 menit, selesai. Persiapan rapat tentu lebih dari 30 menit. Sebagian besar datang terlambat.

Ke mana waktu menghilang?

Lagi-lagi Terlalu Sibuk

Lagi-lagi, soal sibuk. Terlalu sibuk. Saya suka kesibukan, tapi saya tidak suka apabila saya terlalu sibuk. Saya perlu waktu luang untuk menyeimbangkan hidup saya.

Saya perlu waktu luang untuk menajamkan. Menajamkan kemampuan saya. Menajamkan rasa. Menajamkan apa yang saya suka. Ibarat seorang penebang pohon, ia akan menggunakan 2/3 waktunya untuk mengasah gergaji sebelum menebang pohon.

Saya lebih suka konsistensi. Biar kecil dan perlahan daripada besar namun sekali langsung hilang ditelan bumi.

Tulisan ini lagi-lagi ingin saya tutup dengan kutipan:

Cukup lakukan satu/dua hal setiap hari. Sisanya, nikmati hidup.

#random

Memahami Raksasa

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, untuk bisa melihat lebih jauh berarti kita harus bisa memanjat raksasa lebih dulu.

Kemarin saya baru baca bab 1: Foundations dari buku Applied Cryptography karya famous cryptography expert, Bruce Schneier. Saya perlu tahu perbedaan dari block cipher vs stream cipher. Saya perlu menambah pengetahuan saya dalam bidang ini.

Ternyata memanjat raksasa pun tak pernah mudah…

Dunia Anak-anak

Akhir pekan kemarin, saya menghabiskan waktu bermain bersama putra saya yang berusia 3 tahun. Dunia anak-anak itu memang dunia bermain. Tak perlu permainan canggih. Dari permainan sederhana, ia bisa begitu kreatif.

Di depan rumah, kami menggelar kolam renang kecil. Kurang lebih berukuran 2 x 1 meter. Untuk badang saya tidur saja, sudah penuh. Saya mana bisa meluncur. Dari mainan sederhana: mobilan, plastik, hingga botol sabun saja ia sudah senang sedemikian hingga.

Lalu saat di dalam rumah. Saat saya sedang asyik sebentar menonton TV, ia berseru bahwa puzzle gajah hilang. Saya bilang coba cari dulu di dalam tas jaring. Ternyata benar tidak ada. Ia asyik saja main sendiri, mencoba menyusun semua kepingan puzzle lainnya.

Terakhir saat bertemu sepupunya yang sebaya. Ada kasur lipat yang tergulung. Jadilah terowongan :-)