Fathers Day

Today is fathers day. Here in Australia. I don’t know what is fathers day. I will look at Wikipedia later. I knew about fathers day from the advertisement brochure (aka junk mail) which I found in the mailbox.

In the TV, I saw Tony Abbott, was standing with his father. It was also the celebration for his one year as Prime Minister.

OK, time to find out what’s fathers day all about.

Sepuluh Ribu

Malcolm Gladwell dalam buku Outlier menulis bahwa salah satu kunci cara menjadi pakar dalam satu bidang adalah dengan melakukan hal tersebut selama 10.000 jam (sepuluh ribu jam). Lalu saya jadi berpikir banyak hal soal 10.000 ini. Hal apakah yang sudah saya lakukan selama 10.000 kali? Saya sederhanakan saja menjadi frekuensi bukan durasi.

Jangan-jangan hal yang sudah saya lampaui 10.000 kali (atau jam) adalah tidur. Apalagi di musim dingin pertama yang saya alami ini. Selama tiga minggu saya bisa tidur pukul 9 malam dan baru mulai beraktivitas di pagi hari pukul 9. Belum lagi jika saya ikut tidur siang menemani Zaidan.

OK, pilihan pertama 10.000 ada di tidur. Lalu apa?

Menulis? Ah enggak juga. Tulisan saya baru 1400-an. Jika saya konsisten menulis di blog ini satu tulisan setiap hari, maka perlu waktu … (sebentar ngitung dulu) Satu tahun baru akan ada 365 tulisan. Berarti perlu waktu kurang/lebih 30 tahun agar jadi 10.000 tulisan. Tulisan di blog ini pun tulisan yang bisa dikatakan tulisan spontan. Lebih banyak “sampah”-nya kali bagi orang lain untuk membaca tulisan saya. Hmm… tapi toh tujuan tulisan saya di blog ini adalah untuk saya sendiri.

Apa lagi? Foto? Foto dengan kamera digital/smartphone memang jadi mudah. Tapi apa iya sudah 10.000 foto yang saya unggah? OK, apakah ada 10.000 foto di komputer/smarphone yang belum di-upload?

Apa lagi? Waktu untuk keluarga? Paling sehari saya hanya bisa mengalokasikan waktu untuk keluarga maksimal 4 jam. Waktu tidak tidur lainnya saya gunakan untuk keperluan pribadi. Perlu berapa hari untuk mencapai 10.000 jam?

Membaca? Sudah ada gitu 10.000 judul buku yang saya baca?

Olahraga? Di aplikasi Nike+, baru ada 10 lari yang tercatat. Itu pun belum ada yang mencapai 10 km. Berenang? Wah apa lagi. Bisa 4-6 bulan sekali saya baru berenang.

Kalau makan, nah soal ini baru bisa jadi sudah lewat 10.000 kali. Termasuk ngemil. Tapi apa iya makan yang mau dibanggakan?

Melawan Dingin

Terbukti sudah secara empiris, bahwa Melbourne menjadi kota terdingin yang pernah saya kunjungi. Bahkan ini adalah musim dingin pertama yang saya alami.

Saat di Taipei, waktu sholat subuh adalah sekitar pukul 3.30 Maghrib kurang lebih sama dengan di Jakarta, sekitar pukul 18.00 Di Melbourne, waktu maghrib pun sama, yaitu sekitar pukul 18.00 Namun subuh di Melbourne baru pukul 5.15 Matahari baru menampakkan sinar di Melbourne pukul 7.00

Ini berarti malam lebih panjang +/- 1 jam di Melbourne. Kesempatan yang baik bagi saya untuk memperpanjang waktu tidur?

Ternyata terlalu banyak tidur juga tak baik. Badan malah lemes. Tapi bagaimana? Keluar dari selimut, bangun, berarti harus siap melawan udara dingin. Nyalakan perapian? Lalu minum minuman hangat? Memang membantu, tapi ternyata…

…ternyata dingin harus dihadapi. Mau tak mau. Nah ini yang tidak mudah. Sekarang saya baru mulai mengerti pendapat teman saya asal Polandia. Salah satu alasan ia menyukai Indonesia ujarnya adalah “Matahari yang selalu bersinar sepanjang tahun”.

On Being A Full Time Father

This post title seems tendencious. You know you can never replace a mom’s touch to a child.

There are laughs, there are sadness, and there are moments which couldn’t describe by words.

*argh, I got a feeling my english writing skill just getting worse*

When I arrived here, I don’t know how much time I would spend with Zaidan. Can I open my laptop when he’s sleeping? Can I have more ‘me time’ compare to when I was in Jakarta? Can I wake up a little bit late? Can I go out to meet my friends?

Being a full-time father is when you put your priority to your child. Doing funny things with him. Teach him to cut papers. Playing bulls eye “ride like the wind” before sleep.

And you’ll understand more that, you can never replace a mother’s touch.

IMG_5934.JPG

Ke Bengkel Sepeda

Hari ini saya ke bengkel sepeda.

IMG_5912.JPG

Ternyata Zaidan mau ikut. Asyik! Saat bangun, saya sengaja langsung mengenakan helm sepeda di dalam rumah. Niat saya memang ingin menggoda Zaidan agar ia ikut.

Sesampainya di kampus Monash Clayton, saya segera menuju lokasi Bikery. Saya tahu ada bikery ini dari papan petunjuk. Lalu saya datangi lokasi ini, dan saya jadi tahu ada bengkel sepeda di dalam kampus.

Saya tiba di kampus pukul 10 pagi. Waduh kok pintu menuju bikery masih tertutup. Segera saja saya catat URL bikery dan nomor telepon.

Zaidan bilang apa. Ke toko buku dulu, baru ke bengkel sepeda. Tungkan, bengkel sepedanya masih tutup.

Begitu komentar Zaidan.

Oh ya, karena saya membawa sepeda kempes, Zaidan ikut ke kampus dengan berjalan kaki. Tidak naik stroller.

Jadilaj saya ke toko buku kampus.

Pak, baca bukunya di sini aja. Gak usah beli buku ya.

Lagi-lagi Zaidan berkomentar.

Pukul 10.45 saya kembali ke lokasi bikery. Waduh, pintu masih tertutup. Segera saja saya coba telepon. Masalahnya saya perlu menambahka kode area sebelum menelepon. Saya tebak saja, bahwa kode VIC adalah 03. Bingo! Telepon diangkat.

What time does the bikery open?
9.30

Why the door still locked? I am standing in front of the gate now.
Oh it’s just safety lock. You can open it :)

Sehari sebelumnya saya memperbaiki pompa di rumah. Pompa selesai diperbaiki, saya pompa ban belakang. Hasilnya ban tetap kempes. Jadilah kesimpulan saya ban belakang bermasalah.

Sekarang ban belakang sudah diganti ban baru. Saya juga meminta kalibrasi rem belakang dan meminta goyangan ban belakang diperbaiki.

Oh ya ternyata bikery di Monash Clayton ini dijalankan oleh mahasiswa semua! Keren kan!

Yang mengganti ban dalam saya adalag mahasiswa Teknik Mesin asal Kuala Lumpur. Ia sudah 1.5 tahun di sini. Ia memiliki kelas setiap hari, dan 2 pekerjaan sampingan. Selain kuliah, ia bekerja, dan membantu memperbaiki sepeda di bikery!

Satu Minggu Lebih di Melbourne

Tanpa terasa, sudah lebih dari satu minggu saya di Melbourne. Jum’at minggu lalu saya sudah sholat Jum’at. Dan beberapa hari yang lalu sudah sholat Jum’at untuk yang kedua kalinya.

Sebenarnya kami tinggal di pinggir kota Melbourne. Tepatnya kota Monash. Sekitar 1 jam perjalanan (termasuk waktu tunggu) ke CBD Melbourne.

Satu hal yang masih sulit dikalahkan adalah rasa dingin di pagi hari. Matahari baru terbit pukul 7 pagi. Dan kalaupun ada matahari, sinarnya takkan sepanas sinar matahari Jakarta. Jadi usai sholat Subuh lebih sering lagi berlindung, ngerinkel dibalik selimut.

Ternyata benar, Melbourne menjadi kota paling dingin yang pernah saya singgahi.

Tantangan Tersendiri Hidup di Luar Negeri

Bayangan saya dulu (dan mayoritas orang?), hidup di luar negeri adalah kehidupan ideal. Di mana semuanya lebih enak. Apakah benar?

Saat singgah di Amsterdam dulu, saya berjumpa dengan beberapa orang Indonesia. Ia tak mengungkapkan apa pekerjaannya. Saya hanya bercerita bahwa saya ada acara konferensi/seminar. Saya tak tahu, apakah ia bekerja kantoran atau pekerjaan blue collar.

Hari ini saya kembali bertemu orang Indonesia yang bekerja di Australia. Saya tak bertanya persis apa pekerjaaannya. Yang jelas ia bercerita, bagaimana perasaannya saat bekerja di hari lebaran. Ia pun tak memasak opor/rendang, karena ia hidup sendiri. Tak ada saudara. “Sedih rasanya saat bekerja di hari lebaran”, begitu ujarnya.

Ternyata, hidup di manapun, selalu memiliki tantangannya tersendiri. Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Yang lebih penting adalah bagaimana membuat rumput di halaman kita sendiri hijau.