Perasaan Senang dan Kreativitas

Beberapa waktu dulu, saya sempat menulis twit, yang isinya kurang lebih, “Saat otak merasa senang, baru kreativitas akan keluar”. Yah, kita perlu perasaan seperti itu saat mengerjakan sesuatu.

Tapi pada praktiknya, kita tidak bisa selalu dalam kondisi seperti itu. Mendadak saya jadi ingat pesan Barney, bahwa kita pun perlu belajar melakukan hal yang tidak kita sukai.

Pentingnya Interaksi Langsung

OK. Sekarang zaman Internet. Informasi bisa bergerak begitu cepat, tak peduli kita berada di belahan dunia mana, asalkan tersambung dengan Internet (yang cepat).

Tidak lagi tulisan, tapi sudah bisa gambar hingga video lengkap dengan suara. Semuanya bisa bergerak begitu cepat. Lintas batas, ruang, waktu.

Lantas mengapa Marissa Meyer, CEO Yahoo, mengumumkan kebijakan bekerja dari rumah tidak lagi berlaku?

Marissa menjawab, “… Karena dari interaksi langsung, obrolan di pantry kantor, antar cubicle, ide-ide cemerlang dan liar hadir. Saat interaksi langsung terjadi, kreativitas bisa lebih cepat tercipta. Kita bisa tahu langsung apa yang sedang lawan bicara lakukan dan emosi bisa lebih tersalurkan.”

Pertanyaan dan jawaban ini saya kutip saja secara bebas dari berita Marissa Mayer.

Tentu saja ada pro dan kontra dari kebijakan ini. Kali ini saya akan berpihak pada Marissa.

Memang, Internet bisa menghadirkan informasi, tapi bagi saya Internet tidak bisa menghadirkan emosi. Ok, saya kompromi. Bisa menghadirkan emosi tapi takkan pernah sempurna.

Saya jadi teringat diskusi dengan teman-teman saya. Kala itu salah seorang teman saya bertanya, apa sih pentingnya dari acara seperti konferensi?

Jawaban saya kala itu jelas: interaksi.

Materi presentasi bisa diunggah lalu dibaca sendiri. Bahkan kalau ada rekaman videonya, kita bisa nonton sesi konferensi tanpa harus hadir langsung.

… tapi, takkan ada yang bisa mengalahkan emosi dari interaksi langsung.

Waktu Terbaik untuk Konsentrasi

Jam kerja orang kebanyakan adalah 08:00 – 17:00. Bagi saya jam kerja itu lebih ibarat konvensi. Kesepakatan. Karena kita bekerja dengan orang lain, maka perlu ada kesepakatan-kesepakatan yang dibuat.

Nah saat kita bekerja sendiri menurut saya sebaiknya kita diberikan kebebasan kapan mengerjakannya. Yang perlu dibatasi hanya dengan tenggat waktu.

Ada kalanya di jam kerja ini saya bisa produktif, tapi ada kalanya juga saya merasa saya tidak bisa bekerja di jam kerja ini. Entah karena otak sudah jenuh, atau memang sedang sulit fokus.

Kalau Anda, kapankah waktu yang terbaik untuk konsentrasi? Pagi hari? Siang hari? Malam hari?

Terkadang saya merasa membutuhkan suasana sendiri untuk bisa fokus konsentrasi. Sama dengan situasi yang saya butuhkan saat menulis. Jika ada orang lain, saya merasa bisa secara tiba-tiba didistraksi.

Tapi kadang juga saya bisa langsung juga fokus untuk konsentrasi. Serasa trance. Lalu lupa waktu.

Berpikir Visual

Belakangan ini saya sedang kembali mencoba belajar menggambar. Oh kemampuan yang sudah lama sekali tidak diasah.

Setelah saya pikir-pikir, selama ini saya terlalu banyak fokus pada kemampuan menulis. Padahal kemampuan menggambar, jika dikuasai, seru juga!

Saya jadi sedikit berteori, untuk bisa menggambar itu, kita perlu punya imajinasi dulu di otak. Jadi gambar dulu di otak, baru tuangkan ke atas kertas. Benar tidak sih?

Apa mulai sekarang perlu seminggu sekali, mempublikasikan gambar di blog ini?

Setelah Ada Infrastruktur, Lalu Apa?

Setelah ada infrastruktur, lalu apa?

Pagi ini saya sempat berpikir keras bagaimana caranya agar komunitas Debian di Indonesia bisa memanfaatkan domain debian.or.id Domain ini sudah terdaftar di nameserver Indonesia, namun entah pendaftar domain ini tidak bisa dikontak, sengaja memarkir domain ini, atau memang belum memanfaatkan saja.

Lalu saya bertanya lagi dalam hati, setelah dapat domain ini, lalu mau apa? Mau diisi situs? Mau diisi blog? Mau diapakan? Bisa konsisten tidak? Atau sama seperti biasa: hangat-hangat tahi ayam saja.

Atau mau dilanjutkan lagi pertanyaannya: setelah infrastruktur siap, lantas mau disuapin terus atau bisa jadi self-starter?

Hal-hal inilah yang menurut saya masih sulit. Yah, namanya komunitas memang tidak akan pernah bisa se-kaku dengan perusahaan. Tapi mengapa komunitas di luar negeri bisa lebih maju? Ehmm… tapi saya lihat memang tantangannya beda. Ada juga kok komunitas di Indonesia yang saya kira bagus. Komunitas BlankOn dan echo, yang saya tahu. BlankOn konsisten merilis distro-nya. Echo konsisten merilis e-zine dan mengadakan HiTZ (Hack in The Zoo).

Salut untuk kedua komunitas ini dengan konsistensinya!

Sama seperti dengan blog. Banyak orang ramai-ramai membuat blog. Satu-dua bulan berikutnya, blognya kosong. Tidak lagi ditulisi. Padahal infrastruktur server, aplikasi, database sudah disiapkan. Barangkali memang diperlukan figur yang memang bisa konsisten agar bisa jadi contoh.

Oh ya, karena tulisan kali ini berbicara soal Debian, bagi para mahasiswa/i yang tertarik untuk ikut Google Summer of Code (GSoC) 2013 dalam proyek Debian, bisa membaca paparan Iwan Setiawan, lebih detail bagaimana caranya berkontribusi.

Karena Kontribusi di Komunitas

Sedikit-banyak, saya merasa bisa sampai dalam kondisi sekarang ini, berkat kontribusi dari komunitas.

Saya masih ingat betul, saat-saat saya mengerjakan tugas akhir dan mengalami kesulitan. Saya memiliki catatan pribadi dan bahkan menulis blog sebagai salah satu bentuk catatan. Saat mengalami kesulitan, saya tuliskan kondisi kesulitan saya.

Menulis masalah adalah salah satu cara memecahkan masalah. Bagaimana kita bisa mendefinisikan masalah dengan jelas, itu sudah jadi langkah awal yang apik.

Pertanyaan-pertanyaan kesulitan saya, saya tulis lalu saya kirimkan ke milis. Satu milis yang saya ingat adalah milis tanya-jawab@linux.or.id Sekarang saya merasa agak bersalah juga, lama tak menengok dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di milis ini.

Near Death Experience

Near death experience.

Begitu ujar teman saya, usai motor yang kami tumpangi menikung tajam. Kebetulan saya yang dibonceng, jadi kendali sepenuhnya ada di teman saya. Saya lupa persisnya, mengapa saat itu teman saya menikung begitu tajam.

Kemarin Sabtu, terjadi musibah pesawat Lion Air. Kebetulan salah satu penumpang di pesawat ini ada orang yang saya kenal. Cukup dekat malah.

Berita kecelakaan ini sontak menjadi sesuatu yang berbeda bagi saya. Ya, karena faktor kedekatan itu. Proximity begitu teori jurnalistiknya.

Kalau mengingat-ngingat akan kematian, sebenarnya hidup manusia ini begitu singkat. Kalau kata khutbah Jumat kemarin di JCC, hidup di dunia ini hanya sementara.

Lalu, apakah tujuan hidup kita ini?