Are the Problem in Numbers?

Indonesia, a country with more than 250 million citizens.
Jakarta, a metropolitan with 12 million inhabitans.
7000 among them are street buskers.
And this is the story of three.

It was the opening text of Jalanan The Movie, a film by Daniel Ziv. I watched it at MIFF (Melbourne International Film Festival).

Melbourne, a city with more than 4 millions inhabitants. I live in the suburb, called Clayton. It took 30-40 minutes from Clayton to Melbourne CBD.

Jakarta was a nice city, only when the lebaran came. Me and Zaidan, and also Zaidan’s cousin spent time at Situ Lembang park. When lebaran came, most of Jakartans were going home to their origin.

Not only Jakarta, but also Bandung. Ikhlasul Amal, shared his observation where the Dago street was empty. People could walk in the pedestrians since there were no street vendors.

So, are the problems in numbers?

I am practicing my english writing skill now. I think I should read more books. A fiction book would be great. It’s still not easy for me to express my opinion in English.

Batasan Bahasa Lalu Budaya

Pindah ke tempat baru, berarti akan ada batasan-batasan yang perlu dilampaui.

Pertama bahasa. Saya memang terbiasa dengan bahasa Inggris. Namun mendengarkan percakapan dalam bahasa Inggris? Ini yang saya belum terbiasa. Lalu yang kedua adalah mengungkapkan perasaan/gagasan dalam bahasa Inggris. Hal ini saya juga masih perlu berlatih. Baik dalam bentuk tulisan ataupun lisan.

Batasan kedua adalah budaya. Kebiasaan dan nilai-nilai di satu tempat tentu tidak sama dengan di tempat lainnya. Bagaimana memulai percakapan? Pertanyaan pembuka apa yang tidak menyinggung? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Pelan-pelan batasan ini perlu dilampaui…

Peta dan Tempat Baru

Sore ini saya melakukan eksperimen dengan memutuskan untuk datang ke Python Melbourne meetup. Berikut beberapa hasil eksperimen.

Pertama, panduan peta memang membantu, namun tak pernah cukup. Saya sempat agak lama mencari Stewart St. Pintu keluar yang saya pilih sudah benar, tapi ternyata saya salah belok. Jika dilihat dari peta, maka hanya akan ada satu titik. Sementara di dunia nyata, Anda perlu tahu arah ke mana Anda menuju.

Kedua, membiasakan kembali dengan transportasi publik terjadwal. Di Jakarta memang saya terbiasa menggunakan transportasi publik. Tapi ternyata butuh lebih dari itu. Perlu juga terbiasa dengan segala sesuatu yang terjadwal. Berangkat pukul berapa, dari mana. Pulang pukul berapa, dari mana.

Untungnya saya sudah dilatih menggunakan aplikasi Public Transport Victoria oleh istri saya sehingga saya tahu saya naik apa.

Oh iya, saat akan pulang dan melanjutkan dengan bis, saya sempat bingung dengan halte bis mana tempat saya menunggu. Kembali ke hasil eksperimen pertama. Jika di peta Huntingdale station hanya satu titik, sekarang di dunia nyata ada tiga titik halte yang perlu saya pilih.

Cerita Taiwan 7: Hold on Hand Rails

Saat pergi di dalam kota Taipei, saya menggunakan Metro. Bukan, bukan Metromini yang ada di Jakarta. Semoga tidak lama lagi Jakarta akan memiliki Metro MRT.

Berikut beberapa detail yang bisa saya ceritakan dari stasiun Metro di Taipei.

Pertama, anjuran untuk selalu berpegangan pada pegangan tangga/eskalator. Anjuran ini bertujuan keselamatan. Bahkan dalam pengumuman disebutkan bahwa pegangan ini disterilisasi setiap hari! Jadi bagi mereka yang ragu dengan kebersihan pegangan, bisa yakin untuk berpegangan. Wow, sudah sampai segitunya.

Kedua, iklan cara batuk yang benar. Lagi-lagi masalah kesehatan. Dalam iklan publik di dalam stasiun Metro, diilustrasikan bagaimana seorang bapak yang batuk lalu menutup batuk dengan tangan. Lalu bapak ini pulang ke rumah, bersalaman dengan sang anak, lalu menggendongnya. Tangan bapak yang sudah terkontaminasi batuk akan ikut terbawa ke anak.

Dalam iklan diilustrasikan bahwa batuk sebaiknya ditutup dengan lengan, bukan dengan tangan.

Ketiga, pengaturan lalu lintas manusia di dalam stasiun. Jika ada stasiun metro terbesar yang pernah saya kunjungi, itu berarti Taipei Main Station. Pada beberapa titik pertemuan, bahkan saya lihat ada tulisan yang terjemahan bebasnya seperti ini: Jika lalu lintas manusia terlalu sibuk, maka akan diberlakukan pembatasan.

Yay.

Urusan yang Dilancarkan

Sebelum tanggal 8 Agustus ini, saya berpacu dengan waktu.

Banyak hal yang perlu saya bereskan dan rapikan. Mulai dari urusan rumah, kantor, keberangkatan hingga bendahara paguyuban.

Segala puji bagi Allah SWT, yang Mahakuasa, atas izinNya-lah urusan saya dilancarkan.

Saya benar-benar berpacu dengan waktu. Usai libur lebaran, hari Minggu Zaidan memilih menghabiskan waktu bersama saya. Saya senang, tentu. Namun akibatnya saya tak bisa mengerjakan urusan saya. Saya pun memilih mengerjakan apa yang bisa dikerjakan saja dulu. Pelan-pelan dan sekarang, begitu semangat saya. Dan saya pun membeli koper ditemani Zaidan.

Pagi ini, saya kembali menginjakkan kaki di belahan bumi lainnya. Berbeda dengan Beijing, Lisbon, Portugal, Ghuangzhou, Taipei; saya akan menghabiskan waktu lebih lama di kota ini.

Saya perlu mulai menyelami budaya terra australis ini…

Sarapan Super Karbohidrat

Alkisah, saya ingin menghabiskan beras yang ada di rumah. Jadilah saya nanak semua beras yang tersisa.

Memang selisihnya hanya satu tarikan laci, tapi yang pernah memasak nasi tentu tahu bahwa beras akan mengembang menjadi nasi.

Lalu saya mulai memasak nasi goreng. Selesai. Sekarang saatnya menambahkan lauk telur. Saya sengaja beli telur dengan junlah pas agar habis tak tersisa. Satu telur saya pecahkan ke dalam mangkok. Lalu telur kedua.

Haduh, kok ada cairan titik hitam. Saya coba pisahkan karena sudah telanjur tercampur dengan telur pertama. Cairan hitam sudah saya buang. Lalu saya mencium bau busuk. Yay, telur pertama jadi sudah tercampur dengan telur busuk. Jadilah saya buang telur terakhir saya.

Nasi goreng lantas saya makan dengan apa? Pilihan jatuh pada indomie goreng.

Jadilah sarapan super karbohidrat. Nasi yang banyak plus indomie goreng double.

Sampai-sampai saya lupa makan siang…

Kurva Belajar Berantakan

Saat ini ada banyak hal yang harus saya selesaikan. Pikiran saya selalu dihantui hal-hal apa saja yang perlu saya kerjakan.

Saya tahu, perencanaan yang baik akan membuat segala sesuatu lebih baik, tapi kali ini saya tinggalkan menyusun rencana ini. Mengapa? Karena hal yang perlu saya lakukan terlalu banyak dan waktu yang tersedia terlalu terbatas. Dan menyusun rencana yang baik akan memakan waktu 1/2 dari waktu yang tersedia.

Jadi, pendekatan yang saya pilih adalah lakukan sekarang dan sedikit demi sedikit. Memang, hasil akhirnya bisa tercapai namun tidak efisien dan efektif. Seperti hal yang saya lakukan barusan di bank. Seharusnya saya bisa lakukan secara online tapi karena saya tak sempat berpikir jernih dan membaca dengan seksama, saya perlu meluangkan waktu untuk datang langsung ke bank.

Ini lah perbedaan dunia nyata dan teori. Dalam teori, rencana yang baik mendatangkan hasil akhir optimal dengan efektif dan efisien. Dalam dunia nyata, perubahan di luar rencana selalu terjadi dan yang penting hasil akhir tercapai walaupun tidak efisien dan tidak efektif.