Sibuk Dunia

Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Sayang, saya merasa di akhir Ramadan ini, saya terlalu banyak disibukkan urusan dunia.

Hari ini saya izin tidak ke kantor. Harusnya saya memulai aktivitas dari pagi sehingga cucian bisa kering saat siang.

Lainnya, saya sibuk merekap keuangan paguyuban. Hadeuh, ternyata hal ini memakan waktu banyak sekali. Harusnya saya menggunakan teknologi untuk mempercepat proses rekapitulasi keuangan paguyuban.

Di sela-sela mencatat, saya mencuci dan menjemur. Lalu saya menyiapkan bingkisan sederhana untuk warga sekitar, dan tak lupa membayar zakat fitrah dan zakat mal.

Saat berada di luar rumah, saya bercakap-cakap sejenak dengan tetangga. Beberapa dari mereka mudik. Tetangga depan rumah ke Purwekerto, tetangga samping rumah ke Jogja, lalu tetangga belakang rumah ke Solo.

Malam ini saya masih harus packing dan menyetrika. Waktu tarawih saya paksakan untuk sholat Tarawih berjamaah di masjid. Agar tak terlalu disibukkan urusan dunia.

Let’s burn the midnight oil…

Barang Bawaan

Ada satu kutipan soal bepergian yang menurut saya bagus. Berikut kurang/lebih:

Bepergian menyadarkan kita bahwa sebenarnya dalam hidup itu yang perlu dibawa hanyalah sedikit

Hari ini saya beberes meja kantor. Barang saya tidak banyak, memang. Tapi ada buku-buku dan kertas-kertas, yang rasanya akan terlalu berat jika saya bawa semuanya dalam satu tas ransel yang sudah berisi laptop.

Kutipan di atas bisa kita ambil arti harfiah-nya. Ya, gak perlu bawa barang banyak-banyak kan. Atau arti substansial-nya. Bahwa dalam hidup tak perlu menumpuk banyak harta, tapi yang perlu dikumpulkan adalah pengalaman dan amal baik.

Dalam bepergian, tak semua barang bisa dibawa. Jadilah saat bepergian saya suka berpikir dengan pendekatan prioritas. Apa yang harus, apa yang sebaiknya, apa yang boleh, dan apa yang tidak perlu. Kalau sudah pusing, saya akan kembali ke prioritas. Apa yang harus.

Bepergian kali ini, adalah bepergian yang direncanakan. Bagaimana dengan bepergian saat kembali menghadap Sang Pencipta? Bukankah ini bepergian yang pasti akan terjadi?

Kesempatan Menulis

Lagi-lagi saya keteteran untuk mencoba konsisten menulis. Ternyata sekarang saya sampai pada keadaan saat kesempatan menulis lebih sulit daripada ide menulis.

Beberapa ide tulisan yang ada di kepala: menulis resensi dua film yang saya tonton, yaitu How to Train Your Dragon 2 dan Transformers Age of Extinction. Lalu ide tulisan lainnya adalah … saya sampai lupa. Karena saya tak segera menulis ide yang beterbangan di kepala ini.

Perubahan

22 Juli 2014. KPU dijadwalkan akan mengumumkan hasil pemilu Presiden/Wakil Presiden. Sebuah awal dari perubahan.

Selamat bertugas bagi Presiden/Wakil Presiden terpilih. Perubahan membutuhkan waktu, jadi jangan pernah berharap perubahan akan terjadi instan. Yang instan hanyalah memasak mie instan.

Sayangnya, saya takkan berada di tanah air, saat perubahan ini dimulai. Semoga saya pun bisa selalu berubah menjadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi setiap hari…

Jauh

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

zars

Apakah perlu sebuah perpisahan untuk menemukan kembali rasa cinta?

Berada jauh dari keluarga memang tak pernah mudah. Biar bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial. Yang perlu mencintai dan dicintai. Yang perlu diperhatikan dan memberikan perhatian.

Saya tahu, masa-masa ini takkan mudah. Jauh-jauh hari sebelum masa ini datang, saya sudah berdoa bahwa kami bisa melewati masa-masa ini. Termasuk buah hati kami.

Saya juga tak tahu, ternyata di akhir masa kerja, di akhir minggu sebelum lebaran ini, ternyata pekerjaan justru kembali sibuk. Mulai dari pekerjaan kantor, hal-hal pribadi yang perlu disiapkan, urusan bank, urusan rumah, urusan mobil, urusan berhenti TV berlangganan, urusan laporan keuangan bendahara komplek, dll. Belum lagi urusan pekerjaan rumah rutin. Saya sengaja tak membuat daftar hal yang harus saya selesaikan kali ini, karena saya tahu yang perlu saya lakukan adalah berusaha menyelesaikannya. Complaining won’t solve anything.

Mars dan Venus

Manusia.

Laki dan perempuan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Saat kuliah dulu, saya ingat. Saya pernah baca buku Mars and Venus. Buku yang menceritakan bagaimana perbedaan komunikasi antara laki dan perempuan.

Memang saat ini sudah ada teknologi yang menghilangkan jarak. Saya bisa dengan mudahnya berbicara (dan bahkan melihat via video) dengan istri saya.

Tapi biar bagaimana, “rasa” takkan bisa terlintasi via Facetime sekalipun.

Salam kangen…

Menjernihkan Pikiran

Saya bekerja pada dunia kerja yang tak menuntut kehadiran 8 jam sehari dan ketepatan waktu masuk/pulang. Dengan logika ini, bagi saya awalnya agak sulit memahami pekerjaan yang menuntut ketepatan waktu masuk/pulang dan durasi kerja. Maka, saat briefing satpam di rumah, saya cenderung diam. Dunia kerja saya begitu berbeda dengan mereka.

Namun biar bagaimana juga, saya dituntut membereskan pekerjaan. Dan tentu saya perlu hadir tepat waktu saat rapat.

Dengan dunia kerja seperti ini, saya dituntut untuk memiliki kejernihan pikiran. Nah, sayangnya kemampuan konsentrasi manusia itu terbatas. Bisa konsentrasi 3 jam saja sudah bagus sekali.

Saya perlu melakukan sesuatu yang lain untuk bisa menjernihkan pikiran. Beberapa yang pernah saya lakukan adalah: pergi ke tempat yang baru, bekerja dari tempat baru (bukan dari kantor), mendengarkan musik (ini cenderung biasa ya?), bertemu teman lama untuk mengobrol-ngobrol, bertemu orang baru, nonton film di bioskop untuk mencari inspirasi, dan membuka situs luar negeri dan mempelajari bagaimana mereka memecahkan masalah.

Kalau kamu gimana?