Catatan Perjalanan

Salah satu hal yang saya suka adalah cerita. Dan hal lain yang saya suka adalah perjalanan. Jadilah, saya suka menikmati saat membaca/mendengarkan cerita seseorang mengenai perjalanan yang dialaminya.

Kali ini saya mendapatkan kesempatan untuk menempuh perjalanan. Walau dengan “dimensi” yang berbeda. Saya akan menuliskan secara acak, catatan perjalanan saya kali ini. Sesekali akan saya tulis dalam bahasa Inggris. Mengapa? Untuk melatih kemampuan menulis bahasa Inggris saya.

Kesempatan menulis rasanya akan lebih sulit dalam perjalanan kali ini. Jadi, catatan perjalanan akan lebih sering berbicara lewat “gambar”. Silakan ikuti akun instagram saya.

“New” Book from Library

Zaidan just had a “new” book from library.

A week ago, me and Zaida went to Monash Wheelers Hill library. I took some book and borrowed it. Then Zaidan asked for another book. It was The Batman and the Marvell.

Later, I found out that the Marvell book was already a bit damaged. The first page was half teared apart. Then, when I was reading a story for Zaidan, Zaidan unintentionally continue to teared this part.

Yesterday, I took Zaidan to return books which we borrowed from Wheelers Hill. But we returned it to Clayton. I returned the three other books and reported the Marvell book which was damaged.

The young librarian looked confuse on how to process my report. She asked help from the senior librarian.

Finally we got charged for $30.03 Wow, that’s quite expensive. They almost charged $40 but I told the librarian that the book was already damaged before we borrowed it.

Keajaiban-keajaiban Kecil

Kehadiran Zaidan membawa keajaiban-keajaiban kecil. Dan tulisan kali ini berusaha menyadarkan saya betapa sungguh saya perlu bersyukur.

Zaidan seringkali mengesalkan, tapi lebih sering menyenangkan. Misal saat disuruh pipis. Bukannya ke kamar mandi tapi malah lari ngumpet di kamar. Lalu jika sudah sampai kamar mandi, malah main air. Buang-buang air di kamar mandi kering. Kalau makan, kadang laplep gampang, kadang susah.

Hal yang menyenangkan tentu banyak. Dan beberapa diantaranya bagi saya merupakan keajaiban kecil.

Pada suatu waktu, kami sedang menonton Sesame Street di ABC 4 Kids. Setiap episode, Sesame Street selalu menampilkan angka dan huruf. Dan angka dalam episode kali ini adalah angka 11. Lalu mendadak Zaidan berujar, “Pak, angka 1-nya ada dua”.

Dari mana ia tahu coba. Saya belum pernah mengajarkan aksara.

Lalu keajaiban kecil lainnya. Pada satu sore saya memeriksa kotak pos. Ternyata kotak pos dari om-nya sudah tiba.

“Zaidan, ini ada kartu pos dari Om Kiki”, ungkap saya.
“Oh, Om Kiki tadi dari sini ya Pak? Kok gak mampir”, tanya Zaidan spontan.

:)

Fathers Day

Today is fathers day. Here in Australia. I don’t know what is fathers day. I will look at Wikipedia later. I knew about fathers day from the advertisement brochure (aka junk mail) which I found in the mailbox.

In the TV, I saw Tony Abbott, was standing with his father. It was also the celebration for his one year as Prime Minister.

OK, time to find out what’s fathers day all about.

Sepuluh Ribu

Malcolm Gladwell dalam buku Outlier menulis bahwa salah satu kunci cara menjadi pakar dalam satu bidang adalah dengan melakukan hal tersebut selama 10.000 jam (sepuluh ribu jam). Lalu saya jadi berpikir banyak hal soal 10.000 ini. Hal apakah yang sudah saya lakukan selama 10.000 kali? Saya sederhanakan saja menjadi frekuensi bukan durasi.

Jangan-jangan hal yang sudah saya lampaui 10.000 kali (atau jam) adalah tidur. Apalagi di musim dingin pertama yang saya alami ini. Selama tiga minggu saya bisa tidur pukul 9 malam dan baru mulai beraktivitas di pagi hari pukul 9. Belum lagi jika saya ikut tidur siang menemani Zaidan.

OK, pilihan pertama 10.000 ada di tidur. Lalu apa?

Menulis? Ah enggak juga. Tulisan saya baru 1400-an. Jika saya konsisten menulis di blog ini satu tulisan setiap hari, maka perlu waktu … (sebentar ngitung dulu) Satu tahun baru akan ada 365 tulisan. Berarti perlu waktu kurang/lebih 30 tahun agar jadi 10.000 tulisan. Tulisan di blog ini pun tulisan yang bisa dikatakan tulisan spontan. Lebih banyak “sampah”-nya kali bagi orang lain untuk membaca tulisan saya. Hmm… tapi toh tujuan tulisan saya di blog ini adalah untuk saya sendiri.

Apa lagi? Foto? Foto dengan kamera digital/smartphone memang jadi mudah. Tapi apa iya sudah 10.000 foto yang saya unggah? OK, apakah ada 10.000 foto di komputer/smarphone yang belum di-upload?

Apa lagi? Waktu untuk keluarga? Paling sehari saya hanya bisa mengalokasikan waktu untuk keluarga maksimal 4 jam. Waktu tidak tidur lainnya saya gunakan untuk keperluan pribadi. Perlu berapa hari untuk mencapai 10.000 jam?

Membaca? Sudah ada gitu 10.000 judul buku yang saya baca?

Olahraga? Di aplikasi Nike+, baru ada 10 lari yang tercatat. Itu pun belum ada yang mencapai 10 km. Berenang? Wah apa lagi. Bisa 4-6 bulan sekali saya baru berenang.

Kalau makan, nah soal ini baru bisa jadi sudah lewat 10.000 kali. Termasuk ngemil. Tapi apa iya makan yang mau dibanggakan?

Melawan Dingin

Terbukti sudah secara empiris, bahwa Melbourne menjadi kota terdingin yang pernah saya kunjungi. Bahkan ini adalah musim dingin pertama yang saya alami.

Saat di Taipei, waktu sholat subuh adalah sekitar pukul 3.30 Maghrib kurang lebih sama dengan di Jakarta, sekitar pukul 18.00 Di Melbourne, waktu maghrib pun sama, yaitu sekitar pukul 18.00 Namun subuh di Melbourne baru pukul 5.15 Matahari baru menampakkan sinar di Melbourne pukul 7.00

Ini berarti malam lebih panjang +/- 1 jam di Melbourne. Kesempatan yang baik bagi saya untuk memperpanjang waktu tidur?

Ternyata terlalu banyak tidur juga tak baik. Badan malah lemes. Tapi bagaimana? Keluar dari selimut, bangun, berarti harus siap melawan udara dingin. Nyalakan perapian? Lalu minum minuman hangat? Memang membantu, tapi ternyata…

…ternyata dingin harus dihadapi. Mau tak mau. Nah ini yang tidak mudah. Sekarang saya baru mulai mengerti pendapat teman saya asal Polandia. Salah satu alasan ia menyukai Indonesia ujarnya adalah “Matahari yang selalu bersinar sepanjang tahun”.

On Being A Full Time Father

This post title seems tendencious. You know you can never replace a mom’s touch to a child.

There are laughs, there are sadness, and there are moments which couldn’t describe by words.

*argh, I got a feeling my english writing skill just getting worse*

When I arrived here, I don’t know how much time I would spend with Zaidan. Can I open my laptop when he’s sleeping? Can I have more ‘me time’ compare to when I was in Jakarta? Can I wake up a little bit late? Can I go out to meet my friends?

Being a full-time father is when you put your priority to your child. Doing funny things with him. Teach him to cut papers. Playing bulls eye “ride like the wind” before sleep.

And you’ll understand more that, you can never replace a mother’s touch.

IMG_5934.JPG