Cerita Taiwan 6: Transportasi Publik Tepat Waktu

Saya, Fernando, dan Andreas sepakat mengikuti Tzer-jen ke Hualien. Fernando dan Andreas sudah dipesankan tiket oleh Tzer-jen. Saya yang memutuskan ikut rombongan ini belakangan, pesan tiket sendiri.

Kereta kami, Taipei Main Station – Hualien, hanya berselisih 10 menit. Kereta mereka berangkat pukul 8.50 Kereta saya berangkat pukul 9.00 Tapi kereta saya tiba di Hualien pukul 12.00 sementara kereta mereka pukul 11.00 Ternyata kereta mereka tak berhenti di setiap stasiun selama perjalanan menuju Hualien, sementara kereta saya berhenti di setiap stasiun.

Oh ya, sebelum saya naik kereta saya, saya sempat mau salah naik kereta. Penyebabnya: bahasa. Saya malah sudah menginjakkan kaki ke kereta yang salah ini. Lalu saya tanya orang yang sama-sama turis seperti saya, saya diberi tahu bahwa kereta yang saya naiki, nomornya berbeda dengan nomor kereta yang ada pada tiket saya. Segera saja saya turun.

Kereta yang datang dan pergi di Taipei Main Station ini begitu cepat. Selisih sekian menit saja sudah berbeda begitu jauh.

Oh ya, saya belum cerita soal Taipei Main Station. Jika ada stasiun Metro yang pernah saya kunjungi (di Beijing/Ghuangzhou/Amsterdam/Lisbon/Singapura), makan stasiun Metro terbesar adalah Taipei Main Station. Sudah masuk ke dalam tanah dengan bertingkat-tingkat, pintu keluar yang begitu banyak, mall di dalam stasiun, ada tiga jenis kereta dalam stasiun ini: Local Train, MRT, High Speed Rail.

Dulu saat di Singapura, saya takjub mengapa saya bisa menunggu di halte bus, sesuai dengan waktu. Hal ini takkan bisa saya bayangkan terjadi di Jakarta. Saat di Singapura menemukan hal ini, dalam hati saya berujar, “OK, barangkali karena Singapura adalah kota kecil”. Ternyata hal ini saya kembali temukan di Taipei. Yay, Taipei kan tak sekecil Singapura. Eh, setelah saya cek di Wikipedia, ternyata penduduk kota Taipei (Desember 2010) hanya 2.7 juta jiwa deing. Atau ini belum termasuk New Taipei dan daerah pemekaran sekitar Taipei.

Transportasi publik dan konsep waktu. Orang Indonesia memiliki konsep waktu yang berbeda. Kita cenderung memiliki perspektif jam karet dan menurut saya salah satu penyebabnya adalah karena tidak ada transportasi publik tepat waktu. Kita lebih terbiasa naik kendaraan pribadi yang waktunya bisa kita sesuaikan sendiri…

Tidak Sempat Membaca dan Menulis Review Buku

Hadeuh…

Sudah lama saya menerima buku Python 101 langsung dari penulisnya. Mike Driscoll. Saya mengajukan buku ini untuk saya review. Sayangnya hingga hari ini saya belum juga sempat menulis review buku ini.

Saya paksakan untuk membaca buku ini. Hadeuh, kok jadi muncul kata-kata paksa? Harusnya membaca buku itu kan menyenangkan. Ya, di sela-sela kesibukan waktu, sebelum tidur saya sempatkan membaca satu/dua halaman dari buku ini.

Sudah mulai terbayang sih, bagaimana nantinya saya akan menulis review buku ini. Namun saya ingin tahu, adakah format standar atau yang dijadikan acuan dalam mereview buku. Ada yang bisa bantu?

Oh ya. Sekarang saya juga sedang asyik dengan static blog generator. Karena github untuk sekarang hanya mendukung jekyll, saya gunakan jekyll untuk static blog saya di za.github.io. Rencananya sih akan saya gunakan untuk menulis hal-hal teknis nan geek :D Karena untuk mempublikasikannya menggunakan git ;-)

Tidak Tidur

Semalam saya gak tidur. Hadeuh, badan jadi gak kekaruan rasanya. Ini ceritanya…

Sampai rumah 22.30 Nonton debat terakhir. 23.00 Argentina mulai main. Debat masih belum selesai. Kembali ke debat sejenak, padahal Argentina sudah mulai main.

Debat selesai. Jokowi menutup dengan doa. Kembali ke Argentina. Lhoh kok sudah 1-0? Dan ternyata hanya ini gol yang tercipta.

Jam menunjukkan pukul 1.45 Pukul 3.00 sudah ada undangan sahur bersama di komplek. Kalau tidur dulu, takut bablas. Akhirnya gak tidur. Sebagai teman, makan Indomie.

3.00 mulai sahur sekalian nobar Belanda. Tak satupun gol tercipta. Hadeuh. Perpanjangan waktu dan adu penalti. Belanda akhirnya menang. Bebantu beberes, pukul 6 kembali ke rumah.

Menyiram tanaman sejenak, baru ke Zaidan. Mata mulai mengantuk. Zaidan baru bangun berarti saya tak bisa tidur. Badan mulai terasa aneh. Hingga akhirnya sore pukul 15 bisa tidur. Zaidan pun ikut tertidur akhirnya…

Netral dan Objektif

Netral dan objektif. Ternyata kedua kata ini memiliki arti yang berbeda. Cukup lama bagi saya untuk bisa menentukan pilihan pemilihan presiden kali ini. Bahkan hingga hari kampanye terakhir saya baru bisa condong ke salah satu calon.

Dengan bersikap netral, saya mengamati para pendukung kedua capres. Terkadang pendukung yang terlalu bersuara lantang malah membuat saya enek. Saya melihat mereka yang terlalu ini sudah tak bisa lagi objektif. Pihaknya dibela habis-habisan dan pihak lawan dicela terus-terusan.

Pada satu sisi saya melihat mesin partai yang bekerja begitu rapi. Mereka bekerja keras, hingga popularitas calon yang diusungnya naik perlahan.

Di sisi lain saya lihat relawan yang tulus dan kreatif bekerja. Entah dari mana mereka bisa bekerja sebesar itu. Yang jelas sebagai relawan saya belum akan sanggup berkarya sebagus mereka.

Menggeser Waktu Tidur

Beberapa hari ke belakang, waktu tidur saya bergeser. Alasan pertama adalah karena Piala Dunia. Alasan kedua adalah karena ya memang banyak saja hal yang harus saya lakukan, dan itu di malam hari.

Alasan ketiga, kemarin saya pergi ke Bandung. Dan selama perjalanan rasanya tidak ada yang bisa saya lakukan selama di travel selain tidur. Saya coba dengarkan podcast, sedang malas mikir. Mau istirahat. Ya ini karena alasan pertama sih. Saya coba dengarkan murrotal, saya yang tertidur. Coba membaca, wah goncangannya terlalu kencang. Ck a menulis, paling tulisan singkat saja.

Ternyata waktu tidur tak semudah menggeser bit. Bilangan biner dapat dengan mudah dilakukan operasi shift left atau shift right. Nah kalau waktu tidur lebih sulit.

Oh iya, besok pagi di tempat saya akan ada acara sahur bersama warga.

Main dengan Zaidan di Pagi Hari

Pagi ini saya bermain dengan Zaidan di pagi hari.

Semalam saya tidur larut malam. Saya mulai menyicil data keuangan warga yang masuk. Tidak lama lagi saya akan mengundurkan diri dari bendahara warga.

Siapa sangka Zaidan ikut bangun di waktu sahur. Haduh, padahal saya masih mau menyambung tidur dulu. Awalnya Zaidan malah minta diajak berenang. Sebenarnya bisa aja sih, tapi Zaidan kan baru makan pukul 6 pagi. “Nanti tunggu makanannya turun dulu”, ujar saya. Eh Zaidan menjawab, sambil menggerakkan tangannya dari atas ke bawah di sepanjang leher terus ke perut, “Nih sudah turun tuh”.

Lalu saya ajak Zaidan keluar rumah. Duduk di atas rumput, di samping dua buah pohon pepaya. Karena kesukaannya nonton Disney Club House, saya jadi suka bermain ala Toodles. Alat apa yang mau keluar. Lalu kami juga melihat Iguana. Sang Iguana sedang disiram oleh pemiliknya.

Sebelum saya pergi, Zaidan mengucap seperti ini, “Terima kasih ya Pak, sudah nemenin Zaidan main”. :)

Mencari Pekerjaan

Is there such a thing called a dream job?

Bukan-bukan. Saya belum akan mencari pekerjaan baru.

Dari interaksi dengan lingkungan sekitar, ternyata mencari karyawan itu tidak mudah juga. Ada teman yang mencari orang dengan spesifikasi ini, ada lagi teman yang mencari orang lagi dengan kebutuhan seperti ini, dst, dst. “Zaki, teman saya sedang mencari orang dengan spesifikasi seperti ini. Tolong dibantu.”, begitu ujar teman saya. Sementara, di sisi lain saya lihat orang yang mencari pekerjaan juga tidak kunjung diterima.

Lha, salahnya ada di mana kalau begitu? Mengapa dunia tidak menyambung?

Saya sendiri dalam waktu dekat, akan “bekerja” (lihat tanda kutip) dalam bidang baru. Doakan semoga sukses!