Proses Membuat Materi #2

Hari ini kembali menulis rangkaian cerita FIRST TC Bali 2012. Kembali ke episode Proses Membuat Materi #2. Kali ini saya akan berbicara lebih dalam lagi. Depth.

Berdasarkan hasil diskusi dan kemudian disepakati dalam rapat, workshop yang akan kami isi akan terdiri dari 3 bagian.

  1. Pengantar
  2. Threat Modeling
  3. Security Testing

Saya mendapatkan bagian 1 dan 2. Untuk bagian pertama, referensi utama adalah buku Software Security karya Gary Mc Graw. Lalu untuk materi kedua, saya mencoba memperkenalkan konsep threat modeling sebagai bahan untuk menyusun security requirement.

Materi pertama ini agak gampang-gampang-susah disampaikan karena sifatnya yang sangat konseptual. Namun biar bagaimana konsep ini perlu disampaikan di awal sebagai pondasi para peserta memahami application security. Tentu tidak mungkin semua materi application security disampaikan dalam waktu 1/2 hari workshop kan.

Untungya di sesi pertama workshop ini saya bisa menggali lebih dalam latar belakang para peserta sehingga saya bisa mengetahui kapan harus go depth atau go breadth dalam menyampaikan materi. Para peserta workshop merupakan kombinasi dari level manajemen (menengah dan awal) dan level teknikal (pemrogram, sysadmin).

Di sesi kedua, saya memperkenalkan threat modeling. Saya rasa saya belum terlalu menyiapkan materi dengan baik dan matang. Yah, jadi perlu evaluasi.

Lalu di bagian ketiga, saya dan Sakti tertarik dengan James Whittaker, Googler (pegawai Google) yang bekerja khusus untuk melakukan testing. Saya pernah menulis soal James Whittaker dan testing.

Saya sampai menonton presentasi James Whittaker di GTAC 2010.
.

Untuk salindia dapat dilihat di sini.

Panjang juga kan, proses membuat materi.

Proses Membuat Materi

Kembali melanjutkan rangkaian cerita FIRST TC. Kali ini saya ingin bercerita mengenai proses membuat materi.

Materi -umumnya dalam bentuk berkas presentasi- jika dilihat sudah jadinya hanyalah lembaran halaman dengan informasi di atasnya. Ada judul, ada daftar isi, ada foto, ada pesan. Ada hal-hal yang ingin disampaikan.

Tapi sebenarnya, materi tidak sesederhana itu. Proses menuju hingga menjadi lembaran halaman tersebut panjang. Ada riset di sana. Ada proses berpikir, bagaimana menciptakan alur cerita. Baca juga soal alur cerita ini di blog Iwan.

Saya sendiri suka membayangkan diri saya, akan bercerita apa saat slide menampilkan apa. Saya lebih suka presentasi dengan bentuk visual dibanding dengan menampilkan data-data yang detail. Jika data yang detail, lebih enak untuk dibaca daripada didengarkan.

Proses pembuatan materi ini juga harus mempertimbangkan aspek audience. Siapakah yang akan mengikuti workshop ini. Jika materi terlalu detail sementara yang ikut adalah orang-orang teknis maka tidak akan menyambung. Sebaliknya pun juga berlaku.

Lalu, bagaimana bila materi menuntut (atau sebenarnya lebih menarik) untuk dipraktikkan? Maka faktor-faktor teknis perlu diperhitungkan: koneksi Internet, laptop peserta, sistem operasi yang digunakan peserta, perkakas apa saja berikut dependensi yang perlu diinstall, hingga waktu yang diperlukan untuk sesi praktik ini.

Catatan terakhir proses membuat materi kemarin adalah faktor bahasa. Dalam workshop FIRST TC tempo hari, kami menyampaikan materi dalam bahasa Inggris. Saya tidak terlalu masalah dengan bahasa Inggris, ya walaupun tenses-nya tidak akan benar-benar amat. (Sambil mengingat masa kejayaan saya saat dipuji oleh guru LIA di presentasi akhir Advanced Level).

Rangkaian Cerita FIRST-TC Bali 2012

Satu pengalaman kembali terlampaui. Banyak cerita seru di balik partisipasi dalam satu hari menjadi pemateri dalam workshop FIRST TC Bali 2012. Mulai dari persiapan materi, persiapan keberangkatan hingga pelaksanaan workshop itu sendiri.

Enaknya mulai dari mana ya?

Mulai dari yang sederhana dulu saja. Persiapan keberangkatan.

Dengan lokasi rumah yang jauh dari Bandara Soekarno-Hatta, saya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, sehari sebelum keberangkatan. Jadwal pesawat yang kami dapatkan adalah berangkat pukul 7 pagi.

“Going to Soekarno-Hatta airport is a nightmare”, cerita saya pada rekan-rekan yang bekerja di Singapora dan satu lainnya yang bekerja di Utrecht, Belanda. Masih ingat kan cerita saya saat pergi ke Lisbon, Portugal kurang lebih satu tahun yang lalu.

Pergi ke Bandara Soekarno-Hatta tetap akan jadi mimpi buruk selama belum ada moda transportasi yang bisa memastikan dengan akurat kapan kita bisa menginjakkan kaki di depan pintu check-in. Bayangkan, biarpun kami berangkat usai sholat shubuh, pukul 5 pagi dari Slipi, yang tinggal masuk tol saja, kami baru tiba di terminal 2D pukul 5.40 Lalu lintas di sekitar bandara saat itu sudah padat. Bahkan lalu lintas menuju terminal 1 sudah lebih padat lagi.

Pukul 6 kurang, kami sudah mengantongi boarding pass. Tidak ada masalah dengan check in. Lalu dilanjutkan dengan mencari sarapan. Saya baru tahu kalau punya kartu kredit, bisa memanfaatkan lounge di bandara dengan di-charge hanya Rp 1. Apakah sekarang saatnya mempertimbangkan memiliki kartu kredit? Hehehe alasan.

Wong pergi ke bandara adalah salah satu hal yang tidak saya sukai bepergian dengan pesawat kok.

Sebelum pergi ke bandara, ada cerita lain yang menarik. Ceritanya, rencana awalnya saya hanya akan mengenakan batik saat acara berlangsung namun akhirnya diputuskan lebih baik saya membawa setelan jas juga untuk jaga-jaga jika suasana acara formal.

Pencarian jas dimulai dari rumah orang tua. Tidak ditemukan. Begitupun dengan dasinya. Kembali dilakukan pencarian di rumah orang tua. Hasilnya sama. Akhirnya diputuskan saya meminjam jas kakak saya.

Kebetulan kakak saya pulang lebih cepat dari dinasnya ke Jogja. Jadi kami berencana untuk bertemu di tengah Jakarta, agar ia bisa memberikan jasnya kepada saya.

Masalah jas selesai. Belum selesai bagi dasi. Pencarian dasi pun dimulai.

Pelajaran dari mencari dasi kali ini adalah: kenakan kemeja yang ingin Anda pasangkan dengan dasi yang akan Anda beli. Jadilah saya pusing tujuh keliling membayangkan dasi apa yang cocok untuk saya pasangkan dengan kemeja yang saya bawa karena saya tinggalkan di dalam koper.