Siapa yang bilang menerjemahkan itu tinggal menerjemahkan pasti belum pernah menerjemahkan. Gampang? Silakan coba sendiri.
Sebagai bahan awal bacaan (kayak kuliah aja nih
) silakan baca tulisan Sapardi Djoko Damono ini. Memang, Sapardi lebih fokus pada dunia sastra, tapi saya pikir tak tertutup kemungkinan juga untuk bidang lain.
Tanpa disadari, sebenarnya kita hidup dari terjemahan. Menonton film salah satunya. Memang banyak dari kita sudah bisa berbahasa Inggris, tapi coba, berapa banyak dari kita yang berani menonton film tanpa membaca subtitle-nya?
Semalam saya baru menonton film Iron Lady, sebuah biografi Margareth Thatcher. Di tengah-tengah film saya coba beranikan diri menonton tanpa membaca subtitle. Hasilnya? Masih cukup sulit. Nanti di kesempatan lain saya akan tuliskan soal film ini.
Saat ini saya juga sedang mencoba kecil-kecilan berkontribusi pada proyek open source. Nanti jika sudah siap rilis, akan saya publikasikan. Yah, memang masih berkaitan dengan menerjemahkan. Dan sekalian saya belajar menggunakan git pada proyek nyata.
Bahasa adalah bagian dari budaya. Saat satu bahasa diterjemahkan ke bahasa lain, tentu akan ada nilai dan ruang yang tercerabut dari akar aslinya.
Sebagai seorang Muslim, saya tidak mengerti bahasa Arab. Lalu saat saya membaca terjemahan Al Quran dalam bahasa Indonesia, berarti tidak sepenuhnya nilai-nilai dalam Al Quran ini bisa diterjemahkan seutuhnya ke dalam Bahasa Indonesia.
Tulisan ini bukan berarti saya kontra akan penerjemahan. Toh, apakah kita mau belajar banyak bahasa saat ingin menikmati karya dari luar? Belajar bahasa Perancis untuk menikmati La Petit Prince?
Saya hanya ingin mengatakan profesi penerjemah bukan sesuatu yang mudah. Oh ya, saya ada cerita lagi soal penerjemah rapat. Lain kali deh saya ceritakan.