Kemampuan Menulis Kode

Pagi ini, di dalam Transjakarta, saya kembali menyempatkan menonton video TED. Kali ini adalah video Mitch Resnick, Let’s teach kids to code.

Berikut saya embed video versi youtube-nya di blog ini.

Awalnya, yang menarik bagi saya adalah judulnya. Bagaimana sih cara mengajarkan anak-anak pemrograman? Bagaimana mereka belajar menulis kode, memecahkan masalah, dan berpikir kreatif. Saya ingin tahu teknik-teknik dan metodologi yang digunakan.

Ternyata Mitch Resnick ini memiliki proyek yang diberi nama scratch, sebuah perangkat lunak yang didesain khusus bagi anak-anak untuk memrogram. Saya belum sempat unduh, saya baru lihat tampilannya saja di video. Sekilas saya lihat menarik dan tentu mudah bagi anak-anak.

Belakangan, sesi ini jadi lebih menarik saya: Learn to code, code to learn.

Mitch Resnick mengatakan, dengan anak-anak belajar belajar pemrograman bukan berarti mereka nantinya harus menjadi pemrogram profesional, atau ilmuwan dalam bidang ilmu komputer. Tidak, tidak harus. Seperti yang sudah yang saya tuliskan di atas, anak-anak jadi belajar bagaimana cara memecahkan permasalahan, berpikir sistematis, berpikir kreatif. Dan tak tertinggal, bagaimana anak-anak belajar menghadapi tekanan, misal saat program tak berjalan sesuai keinginan.

Jadi dari belajar bagaimana menulis program, anak-anak lantas masuk ke tahap berikutnya yaitu, memrogram untuk belajar (sesuatu).

Mitch lantas mengambil analogi, belajar pemrograman sama seperti saat belajar bahasa. Kita semua belajar membaca, lantas menulis, lantas membaca lagi dan menulis lagi. Begitu terus, berulang. Saat kita belajar menulis, bukan berarti kita berharap akan menjadi penulis profesional: entah wartawan atau sastrawan.

Soal membaca-menulis ini saya rasakan benar manfaatnya.

Saya belajar bagaimana membaca cepat. Hal ini mempercepat kemampuan membaca saya, sehingga saya bisa membaca lebih banyak. Saya belajar bagaimana menulis yang baik. Hal ini membantu saya bagaimana menuliskan sesuatu dengan baik. Saya pun jadi bisa membaca lebih cepat saat mengetahui bagaimana bentuk tulisan yang baik. Saya juga jadi bisa mengetahui mana tulisan yang baik dan mana tulisan yang buruk.

Hal yang sama berlaku juga dengan pemrograman. Dan Mitch Resnick bercerita dengan begitu baik dalam TED ini…

Memulai Hari dengan Menulis

Akhir pekan telah usai. Dua hari sebagai halte dari lima hari waktu kita memacu. Akhir pekan tak terasa? Ah barangkali kita yang salah menyikapi lima hari lainnya.

Di akhir pekan kemarin saya tak menulis blog. Banyak hal seru yang saya kerjakan bersama Zaidan dan istri. Salah satunya adalah kami menggambar bersama. Istri saya memfoto aktivitas kami lalu mengunggahnya di instagram. Sayangnya foto instagram tidak bisa di

Lelah Berpikir

Belakangan ini kesibukan sedang meninggi. Khususnya dalam hal kerjaan. Kalau urusan keluarga, alhamdulillah ada istri yang selalu siap sedia walau bukan berarti saya lepas tangan.

Bahkan di hari kemarin, saya tidak sempat menulis blog ini. Sejak kesibukan pekerjaan meningkat, saya menulis blog selalu menggunakan ponsel.

Ternyata menulis konsisten itu bukan suatu hal yang mudah. Tak percaya? Coba saja sendiri. Biarpun sedang sibuk, coba sempatkan menulis. Yang ada kadang otak sudah terlalu jenuh dan tak ada lagi energi untuk menulis.

Menulis itu Melegakan

Terkadang, saat lelah menghampiri, menulis menjadi sesuatu yang melegakan. Begitulah yang saya rasakan. Saat menunggu perjalanan kembali dari Makassar ini, ada beberapa pilihan aktivitas yang bisa saya lakukan. Misalnya: membaca, menulis, makan, ngobrol dengan teman-teman, atau diam saja mengamati seksama Bandara Sultan Hasanuddin yang mencengangkan.

Bandara Sultan Hasanuddin. Kali ini jadi kali kedua saya mengunjungi tempat ini. Jika dulu saya tiba saat matahari masih bersinar, di perjalanan kali ini matahari sudah terbenam. Konstruksi bandara ini begitu bagus, kokoh, tanpa meninggalkan sisi estetika-nya. Begitupun dengan pemilihan material, interior hingga pencahayaan.

Bandara Sultan Hasanuddin masih menjadi bandara Indonesia terbaik yang pernah saya kunjungi.

Saat menulis tulisan ini, tiba-tiba saya teringat dengan seorang perempuan Eropa (atau Amerika?) yang saya temui saat transit di Ghuang Zhou dalam perjalanan menuju Beijing. Perempuan ini memiliki tujuan yang sama dengan saya: Beijing. Ia pun tiba juga awal sekali. Apa yang ia lakukan? Ia menulis dengan laptopnya. Tak lama, di belakangnya seorang laki-laki asal Eropa menulis di atas buku tulis dengan pena-nya.

Apakah menunggu pesawat memang salah satu waktu terbaik untuk menulis?

Sebenarnya ada beberapa bacaan menarik juga yang bisa saya baca. Untuk hal teknis, ada PyGame. Untuk non-teknis, ada buku Istanbul. Kota yang pernah saya singgahi lebih dari 10 tahun yang lalu. Namun entah mengapa, rasanya pikiran terlalu lelah untuk membaca kedua bahan ini. Hingga jadilah saya menulis tulisan ini.

Sesaat sebelum menulis, saya terpikir, bagaimana saya akan mem-posting tulisan ini? Mengingat baterai ponsel sudah sekarat jadi paket data saya matikan. Ah, untuk apa segera saya posting, toh saya bisa menulisnya di vim, lalu mem-postingnya nanti saat akses Internet sudah lebih mudah diakses.

Pagi ini saya beranjak keluar dari hotel pagi-pagi. Kalau bahasa Dedi Heriyadi, keluar dari kurikulum hotel. Tujuan utama saya saat mengunjungi Makassar kali ini adalah Fort Rotterdam. Dari hasil pencarian awal saya, Fort Rotterdam berlokasi di tengah kota jadi saya pikir saya bisa mengunjunginya dengan berjalan kaki. Dan ternyata betul, pagi-pagi saya berjalan mengikuti arus orang-orang yang berolahraga pagi di pesisir Pantai Losari. Saya sisir Pantai Losari terus ke utara, dalam waktu 15 menit, saya tiba di Fort Rotterdam.

Kunjungan saya ke Makassar kali ini adalah untuk menghadiri acara idsecconf 2012, yang menjadi acara ke-5. Saya mempresentasikan riset kecil saya mengenai bagaimana melakukan pengujian keamanan pada aplikasi mobile. Metodologi yang saya susun bersifat agnostik, sehingga harapan saya bisa digunakan pada beragam platform aplikasi mobile. Studi kasus yang saya pilih adalah Android karena platform inilah yang paling mudah saya bisa lakukan.

Tujuan sederhana riset kecil ini adalah untuk saya sendiri, tentunya. Jadi saya bisa melihat “catatan” ini bila dihadapkan pada situasi/pekerjaan untuk menguji keamanan aplikasi mobile. Tujuan lainnya, tentu semangat berbagi. Jadi orang lain yang menghadapi kondisi yang sama dengan saya, bisa membuka “catatan” saya ini, memanfaatkannya, dan tentu meningkatkan kualitas catatan ini jika memungkinkan.

Bukankah itu tujuan dari membuka kode perangkat lunak?

Coto Makassar, Catleya Cafe
Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Min Jun 10 21:48:07 WIT 2012

Membaca dan Menulis

Membicarakan dua hal ini seolah  tak ada habisnya bagi saya. Bukan berarti saya kehabisan ide untuk menulis. Sebenarnya saya ada beberapa ide baru dan rencana yang

Hidup yang Seimbang

Apakah yang ada di dalam bayangan Anda saat terlintas kata-kata “Hidup Seimbang”? Pekerjaan yang menyenangkan? Karier yang tinggi? Gaji yang besar? Keluarga yang damai? Kehidupan spiritual yang kuat? Teman yang menyenangkan?

Ternyata menulis bagi saya adalah salah satu cara untuk membuat hidup seimbang. Seimbang, jadi menyenangkan. Berpikir tidak harus selalu serius kan. Sesekali saya ingin menulis sesuatu yang lebih rapi. Rasanya menulis di blog ini sangat spontan sekali.

Hal lainnya ternyata adalah musik. Khususnya musik Indonesia. Ternyata secara psikis musik Indonesia lebih dekat bagi saya. Biarpun musik barat ada yang enak, rasanya tidak sedekat dengan musik Indonesia.

# kembali mendengarkan musik

Lama Tak Menulis. …

Woow sudah lama juga tidak menulis. Saat lihat tulisan terakhir, ternyata foto kopi tiam oey. Istri saya malah kembali menulis hari ini.

Yuk tetap menulis!

Namun kadang saya kadang menikmati juga tidak menulis. Eh apa ini jadi pembenaran? Biarpun niat tidak menulis, otak tetap saja berpikir untuk tetap menulis.

Menulis itu menyengkan. Barangkali hampir sama dengan senangnya pelukis melukis di atas kanvas kosong.

Kita tidak tahu akan seperti apa.tulisan kita pada akhirnya. Menulis dengan mengalir saja.