Resensi The Raid

Kemarin malam, saya dan istri berkencan. Kami menonton film The Raid. Gak romantis banget ya filmnya. Hehehe…

Ramai-ramai orang membicarakan The Raid, saya jadi membaca sedikit artikel pendek tentangnya di Kompas Minggu. Di artikel pendek ini, dikisahkan adegan pembuka film ini. Saat Ray Sahetapi menembak kepala orang satu-per-satu. Hingga orang terakhir, kehabisan peluru. Ray Sahetapi menuju meja, dan membuka lacinya. Apa yang diambil bukanlah peluru, melainkan palu.

Film ini merupakan film kekerasan. Jadi bagi yang benci dengan kekerasan tak perlu menonton film ini. Lain cerita bagi mereka yang ingin menyadari bahwa memang kekerasan adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia yang tak sempurna ini.

Kembali ke cerita.

Baik, saya coba nilai satu persatu. Pertama untuk adegan aksi. Film ini menyuguhkan aksi yang sungguh apik. Kekerasan memang ditampilkan secara vulgar namun bukan berarti diobral. Darah merah memang muncrat namun bukan berarti terus-terusan disorot. Cara memotong adegan kekerasannya sungguh rapi. Adegan berkelahinya pun tak kalah seru. Jagoan tak selalu menang dan musuh tidak juga mudah dikalahkan.

Kedua dari sisi cerita. Biarpun setting film ini hanya di gedung reot rumah susun, plot yang ada tak terlalu membosankan. Saat satu jam film mulai berlalu, saya mulai bertanya-tanya, mau dibawa ke mana akhir film ini. Jadi sebenarnya saya sudah agak bosan saat sudah lebih dari 1 jam.

Sisi komedi sesekali disisipkan di film ini. Entah sengaja atau tidak. Yang jelas para penonton di bioskop tertawa saat seorang pemimpin penjahat yang berasal dari Ambon, berbicara dengan logat Ambon, mencari polisi.

Penonton pun menurut saya seperti menyaksikan pertunjukan saat adegan berkelahi. Saat polisi menang, penonton bertepuk tangan. Saya jadi membayangkan seperti nonton acara di atas panggung.

Plot ceritanya bagus. Di awal penyerbuan, ada seorang bapak penghuni rumah susun ingin masuk namun dihalangi. Siapa sangka, bapak ini akan jadi penolong polisi saat disergap.

Adegan yang paling bagus menurut saya adalah saat setelah anak kecil memberitahukan ada polisi datang. Saat lampu dimatikan, seorang polisi menembak dan secercah cahaya menyembur dari senapannya. Saat itulah bayangan polisi terlihat dan penjahat yang sudah menunggu di lantai atas segera menembak membabi-buta.

Akhir cerita, tidak rugi nonton film ini. Adegan aksinya sayang jika dilewatkan namun selama menonton siap-siap jantung berdegup lebih kencang setiap saat.

Bravo The Raid!

9 pemikiran pada “Resensi The Raid

  1. Ikut nimbrung :))))) saya tertawa-tawa hingga akhir film,, cuma aksinya aja yg bagus,, dialog kaku,, cerita tidak istimewa,, tapi teteup donny alamsyah keren🙂

  2. secara effeck bagus, adegan silat bagus…tapi dari segi cerita bener-bener kurang kuat…overall, saya acungi jempol lah untuk film ini, karena berani bermain di genre yang kurang digarap di Indonesia. Coba film2 perjuangan jaman kemerdekaan juga digarap serius seperti the Raid, pasti lebih keren lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s