Meritokrasi, Singapura dan Sistem yang Sempurna

Meritokrasi. Meritokrasi yang saya ketahui adalah sistem yang dibangun berdasarkan merit. Merit adalah pencapaian, kontribusi, prestasi. Dengan sistem meritokrasi, anak kemarin sore (istilah untuk menunjukkan ketidakmampuan) dan orang titipan tidak akan bisa menduduki posisi strategis ujug-ujug. Untuk definisi formal meritokrasi, bisa acu ke Wikipedia.

Singapura. Negara yang letaknya tidak sampai 2 jam perjalanan dengan pesawat dari Ibukota Indonesia, Jakarta. Negara yang secara kasat mata orang Jakarta adalah negara metropolitan sempurna. Semuanya di sana tertib. Tidak ada sampah berserakan. Trotoar luas. Ada MRT yang jalurnya menjangkau ke seluruh bagian kota, lengkap dengan jalur melingkar. Ada bus yang selalu tepat waktu dengan jadwalnya.

Tapi benarkah demikian?

Barangkali Singapura bisa jadi negara yang sempurna … bagi kita yang di Singapura hanya 3 hari 2 malam. Begitulah ujar Margaritta dalam bukunya After Orchard. Saya pernah menulis sedikit soal After Orchard.

Dalam buku ini, Margaritta mengungkapkan sisi-sisi lain Singapura. Tentu bukan dari pengamatan selama 3 hari 2 malam, tapi semasa ia kuliah dan bekerja di Singapura. Apakah sistem meritokrasi yang ada di Singapura membuat segalanya jadi lebih baik? Ternyata belum tentu juga.

Indonesia tidak menganut sistem meritokrasi. Jadi mereka yang berbuat lebih, berkontribusi lebih, tidak mendapat penghargaan yang lebih atas kinerjanya. Yang malas-malas-an dan yang rajin, disamakan. Baik atau buruk? Rasanya tak perlu dijawab dulu.

Satu sistem meritokrasi yang dikritik Margaritta adalah tentang sistem poin aktif berkegiatan mahasiswa di kampusnya. Mahasiswa yang ingin mendapatkan kamar di kampus harus mengumpulkan poin untuk bisa tetap tinggal di asrama kampus. Ternyata, poin setiap kegiatan ekstrakurikuler tidak sama. Ada kegiatan yang memiliki poin lebih. Akibatnya, banyak mahasiswa yang biarpun tidak suka dengan kegiatan ini, memilih untuk aktif dengan alasan poin. Poin untuk tetap bisa tinggal di asrama. Hal ini menurutnya akan menghilangkan unsur kesenangan dan menikmati dalam memilih aktivitas sesuai minat dan bakat.

Jadi,… pilih meritokrasi atau tidak?

Satu pemikiran pada “Meritokrasi, Singapura dan Sistem yang Sempurna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s