Berbicara di Depan Publik

Pagi ini saya kembali melakukan presentasi di depan khalayak umum. Jadi, kali ini saya ingin menulis mengenai seni berbicara di depan publik.

Berbicara di depan publik ternyata memiliki seni tersendiri. Bagaimana mempelajarinya? Ini yang agak susah. Ya, harus latihan. Kalau dulu guru saya sempat mengatakan salah satu cara latihannya adalah dengan berbicara di depan cermin.

Tapi rasanya berbicara di depan cermin, sensasinya akan berbeda saat berbicara langsung di depan publik. Nah, jadinya untuk berlatih berbicara di depan publik memang tidak mudah.

Sekalian saya kutip video Jokowi saat berbicara di IYCS. Menurut saya Jokowi termasuk pembicara publik yang baik. Mengapa? Berikut saya coba analisis.

  1. Menjadi diri sendiri, apa adanya
  2. Saya termasuk yang tidak suka dengan mereka yang bermain pencitraan. Yah, memang kita saat ini hidup di era citra. Di mana yang asli dan palsu tak terlihat lagi karena format digital tak membedakan itu. Eh, ngelantur. Pendeknya, saya suka mereka yang tampil apa adanya. Lepas. Dengan gayanya sendiri tanpa polesan kosmetika yang berlebihan hingga mengaburkan diri sendiri yang sesungguhnya. Jokowi tampil dengan kemeja lengan panjang dengan lengan terlipat dan dikeluarkan dengan. Tampilan sehari-harinya.

  3. Melucu
  4. Hal ini yang masih perlu banyak saya pelajari. Saya tidak pandai melucu. Padahal pendengar akan lebih suka dengan pembicara yang lucu. Mengapa? Karena otak lebih rileks sehingga materi pun akan lebih dicerna dan diingat. Berbeda bila terlalu serius dan terlalu padat informasi. Yang ada para pendengar malah akan asyik sendiri dengan kegiatannya. Jokowi melucu dengan menampilkan Komandan Satpol PP beserta stafnya dengan mengenakan seragam prajurit kraton.

  5. Bercerita
  6. Seperti kata Rene Suhardono, facts are good to know while stories last forever. Penyampaian fakta dengan bercerita ini lah seni yang tidak mudah dipelajari juga. Jokowi bercerita bagaimana pendekatan sosial yang ia lakukan kepada para PKL agar tidak perlu melakukan penggusuran paksa.

  7. Jelas dan Ringkas
  8. Jika penyanyi harus memiliki vokalisasi yang jernih begitupun menjadi pembicara. Berbicara yang jelas dan ringkas. Jangan terlalu panjang juga memberikan penjelasan karena nanti pendengar malah akan bosan. Jokowi menyampiakan dengan jelas dan ringkas namun tidak kering.

Saya masih harus banyak belajar bagaimana berbicara di depan publik yang lebih baik.

Oh ya, di video ini Jokowi berpesan kepada anak-anak muda agar jangan sering-sering belanja di mall. Kalau ke mall sekadar window shopping saja. Kalau belanja baru di pasar. Mengapa? Silakan simak video ini!

🙂

Satu lagi, dari acara hari ini, saya jadi berpikir untuk membuat tulisan baru mengenai “Tentang Menjawab” sebagai lanjutan dari tulisan “Tentang Bertanya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s