Dokumentasi Video, Perlu?

Rabu lalu, saya diundang oleh Perbanas untuk memberikan kuliah umum mengenai keamanan aplikasi dan OWASP. Saya berangkat sedikit telat sehingga terpaksa buru-buru. Waktu di Jakarta tidak linear. Durasi waktu tempuh juga ditentukan oleh waktu keberangkatan. Jika berangkat pagi sekali, jalanan lancar. Begitupun kalau agak siang, lancar juga. Namun jika berangkat tanggung, ya macet.

Saya tiba di Perbanas pukul 9.15 Padahal saya berencana tiba pukul 8.30 Saya lebih suka tiba lebih awal karena saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang dan melihat kondisi lapangan. Sudah sedikit terlambat, saya salah mencari gedung yang tepat. Dari luar terlihat tulisan gedung unit 2, langsung saja saya naik. Saat saya sudah tiba di lantai 5, kodenya tidak ada 25xx melainkan 65xx. Yah, salah gedung. Terpaksa turun lagi.

Saat mencari gedung lokasi acara, saya disapa seseorang. Oh, ternyata Tedi. Tedi Heriyanto. Tedi sendiri sudah cukup banyak juga berkontribusi ke OWASP. Diantaranya adalah memimpin penerjemahan dokumen OWASP Top 10 – 2010 ke Bahasa Indonesia. Jadilah saya bersama Tedi ke gedung lokasi. Tedi sudah tiba di Perbanas sejak pukul 8.30

Saat mencapai ruangan, saya melihat tata letak ruangannya. Disediakan 2 kursi di depan. Salah seorang panitia mengabarkan bahwa nanti serahkan saja ke asisten (panitia maksudnya) untuk mengklak-klik komputer saat mengganti salindia. “Waduh”, dalam hati saya berujar, “Saya tak terbiasa presentasi menggunakan asisten klak-klik”. Saya lebih suka presentasi yang mengalir dan bebas. Jadilah saya putuskan untuk tidak menggunakan asisten.

Saya juga tidak punya remote, ya jadi saya maju-mundur ke komputer. Sepertinya saya perlu juga mempersiapkan diri untuk presentasi dengan format seperti ini.

Kembali ke judul, sebenarnya saya ingin bertanya. Perlukah dokumentasi video?

Di bawah ini adalah video bagian pertama dari tiga video yang sempat saya rekam. Video kedua dan ketiga akan saya tuliskan di kesempatan berikut.

Oh ya, di hari ini saya senang karena bertemu dengan teman-teman baru yang sebelumnya lebih banyak berinteraksi di dunia maya saja. Untuk dokumentasi foto, saya malah tidak sempat. Ponsel saya letakkan di samping komputer karena saya butuh akses Internet (saya lakukan USB tethering), sementara kamera digital tak sempat jeprat-jepret. Yang ada hanyalah twitpic dari Tom.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s