Digital Tak Terelakkan, Analog Jangan Dilupakan

Wah keren juga nih judulnya. Dapat inspirasinya saat di lift, saat kembali menuju kantor. Sekarang saatnya istirahat dulu sejenak dari pekerjaan dengan menulis blog.

Kembali ke judul.

Majalah AyahBunda edisi minggu kemarin mengangkat isu, “Membesarkan Anak di Era Digital”. Tak bisa dipungkiri, kehadiran perkakas digital membuat perilaku anak berubah. Harga tablet yang semakin murah bisa menjadi salah satu alasan mengapa orang tua memperkenalkan tablet ke anak-anak. Interaksi dengan tablet pun sudah mudah sekali, tentu dibandingkan dengan joystick playstation misalnya yang tombolnya begitu banyak.

Dengan tablet, anak bisa diajarkan bagaimana bermain angry birds dengan telunjuk jari. Memainkan drum dari aplikasi musik. Dan seterusnya, dan seterusnya. Masih banyak lagi contoh yang bisa diambil.

Atau ambil contoh nintendo wii, yang memungkinkan pemain melakukan gerakan sesungguhnya saat melakukan permainan. Misal tinju, bulu tangkis, pingpong. Dan seterusnya lagi.

Lantas, apakah memperkenalkan anak berusia dini secepat mungkin dengan dunia digital adalah pilihan yang tepat? Saya belum ingin membahasnya lebih dalam.

Kembali lagi ke judul.

Saat ini saya sudah semakin jarang menulis di atas kertas. Saya lebih banyak menulis dengan komputer. Email, blog, penyunting teks, dst. Namun bukan berarti saya tidak lagi menulis di atas kertas. Sesekali saya masih buat catatan di buku kerja saya.

Kehadiran digital adalah sesuatu yang tak terelakkan. Saya masih bisa menulis surat dan mengirim dengan pos, namun untuk pekerjaan saya harus punya email. Lawan bisnis saya akan membutuhkan waktu yang lama jika harus mengirimkan surat ke kantor pos dulu untuk kemudian saya baca.

Perlawanan akan kehadiran digital ini bukan tidak ada. Ada sebuah komunitas sketch/sketsa yang melawan akan kehadiran kamera digital. Setiap ponsel cerdas sekarang memiliki kamera. Orang bisa dengan sesuka hati menjepret-jepret tanpa harus memikirkan kehabisan film seperti era foto zaman dulu. Komunitas sketsa ini sengaja pergi ke tempat-tempat unik, untuk kemudian duduk, dan menggambar pemandangan di sekitarnya. Prosesnya memang lama, namun disitulah seninya bagi mereka.

Analog atau digital hanyalah alat/format. Baik analog atau digital, satu landasan yang tidak boleh dilupakan adalah inti dari komunikasi itu sendiri. Apakah pesannya tersampaikan atau tidak. Apakah cara penyampaian pesan itu sudah tepat atau belum.

Walau saya melihat 5 – 10 tahun lagi, dunia kertas akan semakin berkurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s