Menulis itu Melegakan

Terkadang, saat lelah menghampiri, menulis menjadi sesuatu yang melegakan. Begitulah yang saya rasakan. Saat menunggu perjalanan kembali dari Makassar ini, ada beberapa pilihan aktivitas yang bisa saya lakukan. Misalnya: membaca, menulis, makan, ngobrol dengan teman-teman, atau diam saja mengamati seksama Bandara Sultan Hasanuddin yang mencengangkan.

Bandara Sultan Hasanuddin. Kali ini jadi kali kedua saya mengunjungi tempat ini. Jika dulu saya tiba saat matahari masih bersinar, di perjalanan kali ini matahari sudah terbenam. Konstruksi bandara ini begitu bagus, kokoh, tanpa meninggalkan sisi estetika-nya. Begitupun dengan pemilihan material, interior hingga pencahayaan.

Bandara Sultan Hasanuddin masih menjadi bandara Indonesia terbaik yang pernah saya kunjungi.

Saat menulis tulisan ini, tiba-tiba saya teringat dengan seorang perempuan Eropa (atau Amerika?) yang saya temui saat transit di Ghuang Zhou dalam perjalanan menuju Beijing. Perempuan ini memiliki tujuan yang sama dengan saya: Beijing. Ia pun tiba juga awal sekali. Apa yang ia lakukan? Ia menulis dengan laptopnya. Tak lama, di belakangnya seorang laki-laki asal Eropa menulis di atas buku tulis dengan pena-nya.

Apakah menunggu pesawat memang salah satu waktu terbaik untuk menulis?

Sebenarnya ada beberapa bacaan menarik juga yang bisa saya baca. Untuk hal teknis, ada PyGame. Untuk non-teknis, ada buku Istanbul. Kota yang pernah saya singgahi lebih dari 10 tahun yang lalu. Namun entah mengapa, rasanya pikiran terlalu lelah untuk membaca kedua bahan ini. Hingga jadilah saya menulis tulisan ini.

Sesaat sebelum menulis, saya terpikir, bagaimana saya akan mem-posting tulisan ini? Mengingat baterai ponsel sudah sekarat jadi paket data saya matikan. Ah, untuk apa segera saya posting, toh saya bisa menulisnya di vim, lalu mem-postingnya nanti saat akses Internet sudah lebih mudah diakses.

Pagi ini saya beranjak keluar dari hotel pagi-pagi. Kalau bahasa Dedi Heriyadi, keluar dari kurikulum hotel. Tujuan utama saya saat mengunjungi Makassar kali ini adalah Fort Rotterdam. Dari hasil pencarian awal saya, Fort Rotterdam berlokasi di tengah kota jadi saya pikir saya bisa mengunjunginya dengan berjalan kaki. Dan ternyata betul, pagi-pagi saya berjalan mengikuti arus orang-orang yang berolahraga pagi di pesisir Pantai Losari. Saya sisir Pantai Losari terus ke utara, dalam waktu 15 menit, saya tiba di Fort Rotterdam.

Kunjungan saya ke Makassar kali ini adalah untuk menghadiri acara idsecconf 2012, yang menjadi acara ke-5. Saya mempresentasikan riset kecil saya mengenai bagaimana melakukan pengujian keamanan pada aplikasi mobile. Metodologi yang saya susun bersifat agnostik, sehingga harapan saya bisa digunakan pada beragam platform aplikasi mobile. Studi kasus yang saya pilih adalah Android karena platform inilah yang paling mudah saya bisa lakukan.

Tujuan sederhana riset kecil ini adalah untuk saya sendiri, tentunya. Jadi saya bisa melihat “catatan” ini bila dihadapkan pada situasi/pekerjaan untuk menguji keamanan aplikasi mobile. Tujuan lainnya, tentu semangat berbagi. Jadi orang lain yang menghadapi kondisi yang sama dengan saya, bisa membuka “catatan” saya ini, memanfaatkannya, dan tentu meningkatkan kualitas catatan ini jika memungkinkan.

Bukankah itu tujuan dari membuka kode perangkat lunak?

Coto Makassar, Catleya Cafe
Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Min Jun 10 21:48:07 WIT 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s