Mengapa Tidak Naik Transjakarta

Kali ini saya ingin mencoba menulis alasan mengapa orang-orang memilih untuk tidak naik Transjakarta. Biarpun saya berada di sisi sebaliknya, baca: pecinta transportasi publik, saya mencoba memahami & menuliskan mengapa orang tidak naik Transjakarta.

1. Waktu
Bagi orang Jakarta, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Apalagi bagi kelas pekerja yang dituntut untuk selalu tepat waktu.

2. Biaya
Biaya naik Transjakarta memang murah. Dari kali pertama diluncurkan, belum pernah dinaikkan sekalipun. Tapi ternyata untuk bisa naik Transjakarta orang-orang perlu moda transportasi lainnya. Yang artinya tambahan biaya.

3. Tidak Dapat Diandalkan
Memang kondisi busway sekarang sudah relatif lebih steril. Yang saya rasakan sendiri adalah rute #6. Namun, waktu kedatangan Transjakarta sulit diprediksi. Kadang cepat, kadang hingga 30 menit.

4. Harus Transit
Transit, berganti halte, membutuhkan waktu dan energi. Tidak semua halte transit bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menit.

5. Tidak Nyaman
Naik transportasi publik berarti belajar bertoleransi. Orang Indonesia masih perlu belajar banyak akan hal ini. Dempet-dempetan, harus berdiri, bergeser ke dalam, dst.

Demikian dulu ulasan singkat alasan mengapa orang tidak naik Transjakarta.

*ditulis di dalam Transjakarta*

6 pemikiran pada “Mengapa Tidak Naik Transjakarta

  1. Ada 4 alasan kenapa orang menggunakan traja: waktu (reliable), biaya & aksesibilitas (efisiensi), kenyamanan, dan keamanan baik fisik ataupun harta.

    Saya udah gak naik traja lagi sejak faktor kenyamanan saya ‘diambil’ karena pemberlakuan area wanita. Ruang gerak penumpang pria dibatasi, pria hanya dianggap sebagai penumpang ‘kelas dua’.

    Saya sebelumnya berpikir bahwa keamanan adalah faktor yg paling penting, karena saya sangat takut akan banyaknya kejahatan di angkutan umum reguler lain. Tapi setelah saya coba naik Metromini, hey it’s not that bad… Malah ongkos yang saya keluarin bisa lebih murah, dengan waktu tempuh yang juga lebih cepat🙂 Intinya, pinter-pinter lah mengatur perjalanan yang paling efisien.

    Oh ya, dari empat faktor tersebut, menurut saya traja gak akan terkalahkan dalam keamanan atas harta benda kita, karena susah banget copet untuk beroperasi. Untuk faktor lainnya (termasuk keamanan fisik karena banyaknya kasus kecelakaan), BLU (Unit Pengelola Transjakarta) mestinya malu karena angkutan modern ini bisa kalah dengan angkutan kuno lainnya…

    1. 🙂

      Kalau di bus di koridor 1 memang terlihat sekali sih pembatasannya. Perempuan di depan – laki di belakang.

      Metromini bisa lebih cepat saat jalurnya tidak jenuh (macet). Transjakarta bisa lebih cepat saat busway steril.

  2. sy gak naik transjak krn lg berbadan 2.. Mirip dg zaki, sy ini penyuka transport umum..apalagi byk yg bisa diperhatikan di dalam transjak itu, ktimbang gadget,sy pikir ‘people’ di dalam transjak itu lbh menarik utk diperhatikan.. klo kondisi ‘normal’ sih, sy masih prefer transjak ketimbang yg lainnya.. lbh hemat dan cepat utk rute BI-Ratu plaza ketimbang moda transport lainnya

    1. Wah, seberapa menariknya Nit, mengamati orang-orang? Apa yang membuat menarik? Karena keberagamannya?😉

      Semoga sehat selalu untuk berbadan dua-nya …

    1. Waktu di Lisbon dan Singapura, kedatangan bus bisa diprediksi hingga satuan menit. #eeaa

      Tapi barangkali kondisi ketakteraturan inilah yang membuat orang Indonesia kreatif😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s