Shalat Tarawih Tukang Martabak

Sore itu usai maghrib, saya ditemani Zaidan pergi ke tukang martabak. “Martabak telur 3, satu ya Bang”, ujar saya. Sambil menunggu pesanan martabak selesai, saya membeli popok.

Martabak selesai dibuat. Saya bayar, lalu saya langkahkan kaki kembali ke rumah. 

Adzan Isya’ berkumandang. Berjalan di belakang saya, tukang martabak yang tadi. Di tengah jalan ia mengenakan baju koko.

“Tarawih dulu Pak”, ungkap tukang martabak sesaat sebelum kami berpisah.

Sesampainya di rumah, saya mengungkapkan kekaguman saya akan tukang martabak ini kepada istri. Tukang martabak ini bisa saja memilih untuk terus berjualan alih-alih pergi sholat tarawih demi pundi-pundi lebih, namun ia tidak memilih itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s