Televisi Lampu Merah

Dahulu saya sempat tercengang dengan kehadiran salah satu stasiun televisi baru. Tercengang karena berita dan tayangannya. Seolah pendatang sebelumnya mendapat saingan yang berarti. Tapi itu dulu. Kali ini saya memberi cap stasiun TV ini sebagai stasiun TV lampu merah. Stasiun TV yang menjual sensasi.

Tayangan Idul Adha.

Seorang reporter mewawancarai bapak tua yang memiliki kupon kurban di Masjid Al-Azhar Jakarta.

“Pak, kuponnya mau dijual ya?”
“Tidak”
“Memang kalau mau dijual berapa? Mau dibeli berapa? 30 ribu ya?”

Di dekat bapak tua ini berdiri anaknya.

“Dek, sini namanya siapa”
“Maesaroh” (yang jawab bapaknya)
“Wah senang ya dek, mau makan daging“.

Ya ampun, ini reporter apa tidak pernah belajar jurnalisme? Saya mengelus dada & segera mengganti saluran TV.

Selamat tinggal TV lampu merah.

3 pemikiran pada “Televisi Lampu Merah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s