Membawa Buku

Malam semakin larut, saya baru saja usai rapat edisi malam hari.

Entah mengapa, saya suka membawa buku di dalam tas. Pada praktiknya, buku ini juga jadinya jarang saya baca.

Berikut saya paparkan alasannya.

1. Posisi Membaca
Sebagai pengguna transportasi publik Transjakarta, saya lebih sering berdiri daripada duduk. Mengeluarkan buku di Transjakarta seraya berdiri lantas membaca,  rasanya sulit dilakukan. Namun bukan lantas saat duduk manis saya langsung otomatis membaca.

2. Waktu Membaca
Otak bukanlah ember yang harus diisi, melainkan lilin yang harus dinyalakan. Begitupun dengan membaca, perlu ada waktu & mood tersendiri untuk dilakukan.

Lainnya?

Alasan saya mengapa suka membawa buku adalah karena suka merasa sayang apabila ada waktu yang terlewatkan begitu saja.

Terakhir mengutip Taufiq Ismail, buku adalah guru yang tak pernah marah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s