Konsep Waktu

Barangkali desa & kota memiliki konsep waktu yang berbeda.

Kota penuh hiruk-pikuk, ketergesaan. Segala sesuatu diukur hingga menit. Bahkan kalau perlu detik. Kalau menyangkut mesin, hingga milidetik pun tak mengapa.

Saya lupa siapa, seorang budayawan pernah menyebutkan konsep waktu yang dipotong-potong jam, menit, detik ini tidak manusiawi. Seolah manusia bagaikan robot.

Lain cerita dengan di desa. Saat waktu tempuh tak pernah lebih dari 2 jam. Jika lebih dari 2 jam itu berarti sudah ke berarti ke desa lain. Saat hiruk-pikuk yang terdengar bukanlah raungan kendaraan bermotor melainkan desir ombak, atau gesekan ilalang.

Iklan

4 pemikiran pada “Konsep Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.