Digital yang Berbeda

Kemarin sore, sesaat setelah Zaidan tertidur, saya sempatkan membaca artikel KOMPAS Minggu. Saya lupa persis apa judulnya.

Salah satu poin yang saya ingat adalah perbedaan otak saat membaca sesuatu yang tercetak (analog) dengan membaca dari perangkat digital. Benarkah hal ini? Saya jadi ingin tahu.

Tiras koran tidak naik. Generasi muda yang akrab dengan Internet sudah meninggalkan koran. Mereka tak lagi mengganggap koran sesuatu yang menarik. Tak ada yang hilang saat koran tak terbaca, namun saat tertinggal berita dari teman di situs media sosial, baru terasa ada yang hilang.

Menulis digital pun menghadirkan suasana yang berbeda. Tulisan tangan saya semakin jelek karena saya semakin jarang menulis di atas kertas. Dengan perangkat digital saya lebih mudah menulis karena kemudahan yang digital tawarkan.

Bagi para penyunting pun, proses sunting lebih mudah dilakukan. Saat saya masih menjadi penyunting, saya bisa lebih mudah memotong, mengatur ulang hingga menulis ulang tulisan.

Menurut saya digital adalah sesuatu yang tak terelakkan. Yang lebih penting adalah bagaimana menyikapinya tanpa harus melupakan bagaimana bekeja dengan cara analog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s