Doa Penjual Balon

Sebelum menempuh perjalanan pulang & usai menyantap makan siang bersama, tiba-tiba Zaidan berujar, “Mo aum, mo aum”.

Ternyata pandangan matanya tertuju pada sebuah boneka plastik-melayang di seberang jalan. Kali ini saya ingin membelikannya, jadilah saya panggil saja penjualnya.

Penjual balon ini sudah cukup tua. Di atas 50 lah kalau melihat kerutan di wajahnya.

Sabaraha Pak, tanya saya.

15 cep.

10 ya Pak.

Ya.

Sementara saya menyiapkan uang, sang bapak melepaskan ikatan balon.

Ini Pak, uangnya. Setelah saya rasa, lebih baik saya lebihkan.

Hatur nuhun, terima kasih. Hati-hati di jalan. Semoga jadi anak saleh.

Zaidan pun masih berdiri dalam gendongan saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s