Jakarta dan Hujan

Kedua kata ini, seharusnya tidak boleh bersatu. Keduanya akan saling menguatkan, membentuk kemacetan.

Pagi ini, saat terbangun di pukul 3 pagi, saya dengar suara rintik hujan. Hingga pukul 6 pagi pun hujan masih turun. Hujan adalah salah satu dari sekian saat-saat yang bagi saya romantis. Suara, angin, hingga bau tanah.

Hujan rasanya akan jadi saat yang sangat mendukung bagi para penulis untuk mengejawantahkan kata-kata.

Jakarta dan hujan. Macet hingga tak hingga.

Semua orang berebut untuk menjadi yang paling dulu. Paradoksnya adalah setibanya sampai kantor, pikiran sudah terlalu lelah untuk berpikir dan bekerja.

Jadi saya pilih untuk menepi sejenak, menikmati obrolan di warung, baru lantas melanjutkan kembali perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s