Bekerja Seperti Seniman

Whuah. Akhir minggu yang menyenangkan. Menghabiskan banyak waktu bersama Zaidan dan keluarga.

Kali ini saya ingin membuka tulisan minggu ini dengan judul bekerja seperti seniman. Seniman kalau bekerja tidak selalu teratur. Hidup dengan menjadi seniman murni barangkali juga tidak akan kaya-kaya amat kali ya. Eh, tapi bagaimana dengan Affandi atau Van Gogh?

Seniman selalu bekerja dengan memberikan yang terbaik. Ia tidak peduli berapa banyak waktu yang dihabiskan. Ia takkan bekerja sekadar menghabiskan waktu kantor.

Susahnya, seniman ini seringkali tidak nurutan orangnya. Ya, karena ia merasa akan tidak nyaman apabila menerima perintah dari orang lain. Bisa jadi ia memang tidak suka dengan orang yang memberi perintah ini, atau perintahnya ini yang tidak disukai.

Bagi seniman, menjaga perasaan saat bekerja sangat penting, karena ini akan sangat mempengaruhi hasil karyanya kelak. Inspirasinya. Goresan kuasnya. Campur-campuran warna cat minyaknya.

Ada seorang rekan saya yang mengaku masa produktifnya ia adalah di tengah malam. Dari pukul 11 malam hingga pukul 3 pagi. Barulah ia bisa menemukan ketenangan dalam bekerja. Ia suka mengeluh saat orang-orang manajemen meminta-nya untuk datang rapat di pukul 9 pagi.

Mari belajar berkarya layaknya seniman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s