Tidak Enaknya Membaca di Tablet

Hari Minggu kemarin secara random saya mencoba membaca kembali buku Madre, karya Dee Lestari. Kebetulan buku ini ada di kamar.

Ternyata saya menjadi kembali pesimis bahwa tablet akan segera menggantikan buku. Waduh apa saya termasuk orang yang tidak suka dengan perubahan? Tidak juga. Tablet saya rasa hanya akan melengkapi buku.

Apakah tablet akan mengurangi penjualan buku konvensional 5 tahun ke depan? Bisa jadi, tapi saya tak tahu berapa banyak angka penurunan ini.

Membaca cerpen karya Dee masih terasa sekali suasana romantisnya dengan buku. Lembaran kertas yang dipegang, diraba. Buku juga bisa digenggam sejenak saat menjumpai pilihan kata yang menarik. Misal, “Saat hujan yang begitu deras menggulung suara kita berdua”, saduran bebas.

Memang iBook menghadirkan tampilan yang sangat keren bagi buku elektronik dengan format epub. Saya sempat ketagihan dengan tampilan ini. Tapi ada beberapa hal yang membuat membaca di tablet menjadi tidak nyaman.

Gangguan pertama adalah refleksi cahaya. Baik cahaya lampu atau sinar matahari. Saat ini saya menggunakan iPad, saya tidak tahu apakah Kindle juga memantulkan cahaya.

Yang kedua tidak terlalu penting, lebih ke rasa. Saat membaca buku konvensional kita bisa tahu seberapa tebal buku yang dibaca dengan melihat posisi halaman dalam buku. Nah saat di tablet hal ini harus diasosiasikan dengan jumlah halaman.

Enaknya tablet tentu adalah beratnya tetap biarpun kita membawa banyak buku. Biar bagaimana, Saya kira saya masih tetap perlu membaca buku konvensional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s