Ilmu Manajemen

Sebagai seseorang dengan latar belakang pendidikan teknik, saya cenderung terpesona dengan segala sesuatu yang lebih keren, lebih canggih, lebih komplit, lebih efisien, lebih efektif, lebih cepat, lebih pintar, dan lebih-lebih ukuran otak kiri pada umumnya.

Misal: saat ada iPad3, maka secara otomatis yang akan saya lihat ada spesifikasi apa saja yang lebih canggih dari iPad sebelumnya.

Saat melihat youtube, maka saya sempat berpikir bagaimana teknologi di belakang youtube ini. Server yang melayani jutaan(?) request, jutaan(?) video yang diunggah oleh penggunanya dari berbagai belahan dunia, belum lagi video processing yang dilakukan oleh youtube. Bagaimana ia bisa meng-generate video thumbnails setiap t waktu, membuat subtitle otomatis, memperbaiki gambar yang bergerak-gerak karena tidak stabil, hingga mendeteksi gambar yang mengandung copyright. Di salah satu video yang saya unggah ditandai oleh youtube mengandung gambar copyright. Oh ya, ada lagi rekaman konser musik yang ditandai juga melanggar copyright.

Karena latar belakang saya adalah engineer, maka saya berpikir bagaimana hal-hal teknis itu bisa dilakukan.

Seiring perjalanan waktu, saya baru perlahan-lahan menyadari bahwa perjalanan saya ke Google masih panjang, menanjak, dan berliku-liku sisi engineer hanyalah satu sisi kecil dari sebuah ekosistem besar. Ada ilmu manajemen yang juga perlu diketahui (dan dikuasai?).

Bagi seorang engineer garis keras, ia akan melihat ilmu manajemen sebelah mata. Ia menganggap ilmu manajemen itu mudah, tak ada tantangannya.

Benarkah?

Jangan salah. Ternyata salah. Ilmu manajemen itu tidak mudah juga. Coba saya berikan gambaran sedikit di sini.

Katakanlah Anda memutuskan untuk memulai usaha rintisan (start-up). Anda akan memiliki sekian pegawai. Mengelola proyek. Negosiasi dengan klien. Strategi memasang harga, tawar-menawar. Mencari SDM handal. Mengatur cash flow. Anda tidak bisa tidak menggaji karyawan setiap bulan kan? Bagaimana jika cash flow macet? Apakah Anda akan bilang ke karyawan bahwa bulan ini gaji dipotong dulu, atau malah bisa jadi tidak gajian?

Belum lagi, bagaimana menjaga atmosfer kerja tetap menyenangkan dan karyawan tetap semangat untuk mengembangkan diri. Belajar-belajar-belajar dan kontribusi kembali ke komunitas. Bagaimana jika ngoprek tidak lagi dilihat sebagai sesuatu hal yang menantang? Bermain game tampaknya lebih mengasyikkan. Tidak, bukan berarti tidak ada ruang bermain. Kita semua perlu ruang bermain. Saya pun masih bermain. Tapi saat sudah berlebihan, rasanya sayang begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Apakah implementasi manajemen tolok ukur yang biasa digunakan di perusahaan mapan akan bekerja? Presensi waktu kerja, misalnya. Atau hingga menerapkan kriteria performa setiap individu? Akankah ini berhasil? Atau justru menghilangkan kesenangan bekerja di perusahaan rintisan? Tapi jika tetap dengan gaya manajemen lepas, Anda sebagai pimpinan mengambil risiko untuk membiarkan perusahaan tergilas dengan pesaing-pesaing perusahaan rintisan yang tumbuh dengan atmosfer lebih baik.

Nah, susah juga kan ilmu manajemen itu.

Pertanyaannya kok Google masih hebat sih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s