Dipalak di Kasir

“100-nya boleh disumbangkan Pak?”, tanya kasir.
“Gak”, jawab saya singkat.

Begitulah percakapan yang terjadi di kasir di salah satu supermarket, usai saya belanja. Haduh, saya tidak suka dengan kebiasaan ini. Bagi saya, ini seperti “dipalak”.

Kalau menurut istri saya, ini karena kasirnya saja yang malas. Karena kalau ia harus menyediakan receh, ia menjadi lebih repot. Repot berarti waktu untuk melayani pelanggan jadi bertambah. Dari sisi manajerial, waktu yang dihabiskan untuk satu pelanggan ini akan menjadi terlalu lama. Pendek cerita, jadi tidak efisien. Hingga terpikir lah ide untuk membuat pembeli menyumbang saja.

Hadoh, saya kok jadi berpikir terlalu panjang begini.

Kalau menurut saya, ya saya tidak suka dimintai sumbangan dengan cara ini. Ya, saya membayar sesuai dengan harga dan saya berhak mendapat kembalian yang sesuai dong. Sesederhana itu saja kok. Dan saya memiliki cara saya sendiri untuk memberikan sumbangan, dan tentu bukan dari uang sisa seperti ini.

Lain cerita lagi.

“Pak ada 500?”, tanya kasir.
“Tidak ada”, jawab saya pendek.

“500-nya boleh disimpan di sini saja?”, tanya kasir lagi.
“Tidak boleh”, jawab saya tetap pendek.

Sekarang kalau kondisinya dibalik, mau tidak, supermarket memberikan saya lebih-an? Ini kan sama saja sebenarnya. Kok mengapa pembeli posisinya malah jadi lemah begini?

Lain cerita lagi. Kalau saya sampai diberi kembalian permen, nanti jangan marah kalau saya bayar juga pakai permen juga.

2 pemikiran pada “Dipalak di Kasir

  1. Mungkin lebih baik disediakan kotak amal di kasir. Jadi penawarannya secara visual saja. Jadi kasir tidak perlu menawarkan amal. Dengan inisiatif sendiri kalau ada uang kembalian bisa diamalkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s