Die Tränen meiner Mutter

Alec kecil ikut kedua orang tuanya, meninggalkan Buenos Aires, Argentina untuk pergi ke Jerman (Berlin kah? Saya lupa). Lizzy pergi meninggalkan tanah airnya karena tidak tahan dengan pemerintahan junta militer. Lizzy pergi mengajak suaminya, Carlos, dan tentu Alec.

“Alec, kamu bukan Puerto”, seru Carlos.
“Mengapa, Carlos?”, tanya Alec.
“Karena kamu tidak tinggal di Buenos Aires”, jawab Carlos.

Dalam film ini, Alec terbiasa memanggil kedua orang tuanya langsung dengan namanya. Suatu budaya yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Di Indonesia, seorang anak yang memanggil orang tuanya, langsung dengan namanya, cenderung akan dianggap tidak sopan.

Alec, Lizzy, dan Carlos tinggal di Jerman bukan di rumah, melainkan seperti di lantai atas gudang yang tak terpakai. Mereka sebagai satu keluarga berbagi gudang ini dengan Gunther, Sik dan Anita.

Saya lupa Gunther yang mana. Sik, seorang gadis muda pemberontak. Bahkan di negara seperti Jerman pun masih ada pemberontak.

Saya suka dengan adegan saat Sik mengatakan pada Alec, “Life sucks! Get used to it”. Sik mengucapkan ini sebelum ia pergi meninggalkan Alec dan gudang ini.

Anita, teman kerja Lizzy. Yang di akhir cerita ternyata menyimpan perasaan pada Carlos.

Carlos, lelaki tanpa pekerjaan mapan. Lizzy, seorang wartawan video. Ia seringkali harus pergi meninggalkan keluarganya demi tugasnya.

Ada satu adegan yang membuat saya terharu. Percakapan antara Carlos dan Lizzy, saat Alec berlatih Taekwondo.

“Kamu, apa yang kamu lakukan di sini?”, tanya Lizzy
“Saya meninggalkan Buenos Aires demi kamu”, jawab Carlos.
“Andai aku bisa memilih, aku akan tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersama Alec”, jelas Lizzy.

Oh ya, ini saduran bebas saya saja.

Saya memberikan film ini 9 bintang dari 10 bintang. Ini bukan film Hollywood di mana selalu ada The Villain and The Hero. Bukan, bukan itu. Ini film tentang kehidupan. Tentang perantauan. Tentang keluarga. Tentang mengungsi.

Eh tapi bukan berarti film ini selalu serius. Adegan yang paling lucu menurut saya adalah saat piala dunia Jerman vs Argentina.

Gunther, Alec, Lizzy, Carlos, Sik dan Anita semuanya bersiap menonton TV siaran langsung. Mendadak TV mati. Lalu adegan berganti ke mereka semua asyik mendengarkan radio. Yap, mereka menyimak pertandingan via radio.

Masih ada yang lucu. Saat Jerman bisa menyamakan kedudukan 2-2, Alec dan seorang teman sekolahnya, bersiap membuka jersey Argentina. Ternyata mereka telah merangkap jersey Argentina dan Jerman.

“Should we switch side now?”, ujar Alec.

Buenos Aires, Argentina. Semoga suatu hari nanti ada kesempatan bisa mengunjungi benua Amerika Selatan ini. Ivan Lanin saja sudah pernah menginjakkan kaki ke sana.

Die Tränen meiner Mutter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s