Parkir Mundur dan Gerak Semu

Seminggu yang lalu, saya memutuskan untuk mengajak istri menonton film Rectoverso. Rectoverso, Cinta yang Tak Terungkap. Wah kalau dipikir-pikir saya sudah membaca buku, mendengarkan musik dan … menonton Rectoverso!

Dari hasil pencarian, ternyata hanya tinggal 3 bioskop yang masih memutar Rectoverso. Dan pilihan bioskop terbaik adalah di PIM. Jadilah saya memacu kendaraan menuju PIM. Untungnya saya memilih lewat jalan tol, keluar Pondok Indah, lalu memotong lewat Don Bosco. Hadeuh, ternyata parah juga kemacetan di jalan TB Simatupang. Ragunan – Pondok Indah ditempuh dalam waktu kurang dari 60 menit.

Satu hal yang tidak saya sukai saat membawa kendaraan pribadi adalah mencari tempat parkir. Termasuk di mal tentunya. Hingga akhirnya saya dapatkan satu slot parkir yang masih kosong. Saya putuskan untuk parkir dengan posisi mundur agar saat keluar bisa lebih cepat.

Saya tengok spion, kanan-kiri, memastikan ada jarak yang cukup di antara kedua mobil. Saya suka membuka kedua jendela agar bisa melihat lebih jelas.

Mobil saya mundurkan perlahan.

Ealah… tiba-tiba saat saya melihat ke sisi kanan, mengapa mobil di kanan ini terlihat maju. Maju… maju dan maju dengan cepat. Padahal saya sudah menginjak rem. Lalu saya injak rem lebih kuat lagi. Lagi dan lagi. Jantung saya sempat berdegup lebih kencang karena merasa rem saya kok tidak bekerja dengan pakem. Benda apa yang akan saya tabrak nantinya?

Ternyata…

Mobil di sebelah kanan saya ini bergerak maju. Saya kehilangan orientasi karena saya melihat mobil di kanan ini saat saya bergerak mundur.

Bagi yang kesulitan memahami gerak semu, peristiwa yang paling umum adalah saat kita berada di dalam gerbong kereta, lalu melihat keluar. Saat di samping kita ada kereta juga, seringkali kita tidak tahu siapakah yang bergerak. Kereta yang kita naiki, atau kereta yang kita tatap.

Dan ternyata gerak semu ini bisa juga terjadi juga di tempat parkir mobil. Hihihi…

4 pemikiran pada “Parkir Mundur dan Gerak Semu

    1. Masih bagusan film Jerman yang ku tonton di Goethe, Lif. Hehehe. Ini film kumpulan cerita pendek kan.

      Yah, sesuai genré rectoverso, filmnya bergaya Dee sekali🙂

      1. artinya gak puas yah ama film nya. aku sih gak pernah baca bukunya, tapi ngelihat film nya kok boring bgt, terlalu lambat tempo ceritanya. kecuali untuk yang cerpen cicak-cicak di dinding

  1. Kalau aku sih cukup puas. Kalau istriku kurang lebih sama kayak kamu Lif. Lambat dan cenderung bosan.

    Oh iya, lupa aku ada Sophia Latjuba. Baru mau coba nulis resensinya. Ah tapi terlalu vulgar ah yang bagian ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s