Cuplikan Buku Titik Nol – Agustinus Wibowo

Semalam saya berniat kembali melanjutkan membaca buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Sebenarnya kemarin hari yang cukup melelahkan bagi saya. Hari dimulai lebih pagi dan diakhiri lebih malam. Sampai rumah sudah lelah. Tapi sejenak saya sempatkan memotong pepaya, takut keburu busuk. Pepaya yang saya beli kali ini cukup besar, dan saya putuskan untuk mengupas semuanya saja sekalian.

Karena sudah terlalu lelah, saya berencana membaca bacaan yang lebih ringan saja, yaitu komik Donal Bebek. Tapi ternyata komik ini tidak ada di kamar. Yang ada di kamar buku Titik Nol, Agustinus Wibowo.

Bagi yang belum tahu Agustinus Wibowo, ia adalah seorang penjelajah yang kemudian menuliskan pengalamannya selama di perjalanan. Buku Titik Nol ini adalah buku ketiganya. Dua buku sebelumnya adalah Selimut Debu dan Garis Batas.

Berbeda dengan dua buku sebelumnya, menurut saya Titik Nol banyak bercerita tentang sisi kehidupan pribadi Agustinus Wibowo. Saya baru mencapai halaman 200-an. Hehehe hebat juga ya untuk ukuran membaca di waktu luang.

Di sela-sela kisah perjalanannya, dibuat suatu bagian yang menjadi penyeling cerita. Penyeling cerita ini banyak bercerita tentang ibu Agustinus Wibowo. Tentang harapan, tentang penyakit, dan juga tentang perjuangan.

“Aku ingin merasakan momong cucu”, begitu salah satu cuplikan penyeling cerita ini. Harapan sang Ibu pada anaknya.

Agustinus memilih jalan hidup tidak seperti orang kebanyakan. Walau sebenarnya ia bisa saja. Ia lulus sebagai salah satu lulusan terbaik dari Universitas Tsinghua, Beijing. Salah satu universitas yang disegani di daratan panda ini.

Ia cerita, sudah ditawari beasiswa, melanjutkan pascasarjana, bahkan hingga kuliah di Amerika Serikat. Tapi ia tidak memilih jalan hidup itu.

Saat Agustinus lulus, ia mengabari pada kedua orang tuanya: kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya adalah ia lulus dengan predikat memuaskan. Lalu bagaimana dengan kabar buruknya? Ia memilih jalan hidup yang berbeda.

Agustinus bukan seorang dengan perawakan kekar dan tinggi besar. Ia bahkan lebih kecil dari saya. Kebetulan saya pernah bertemu langsung dengannya dalam acara bedah buku Garis Batas.

Tapi siapa sangka, ia mampu naik kd salah satu gunung tertinggi di dunia. Ia beristirahat selama dua hari untuk membiasakan bernafas di ketinggian 4500 meter di atas permukaan air laut.

Saya belum bisa menebak akhir cerita Titik Nol ini. Membaca buku dengan genre seperti ini membuat saya bersemangat untuk juga menempuh perjalanan…

9 pemikiran pada “Cuplikan Buku Titik Nol – Agustinus Wibowo

  1. Buku yang sangat menginspirasi. Saya suka sekali cara Agustinus bercerita di buku itu. Tapi anehnya di Gramedia dimasukkan di rak novel, saya sempat mutar-mutar lama utk menemukannya. Sampai akhirnya nanya sama petugas, baru tahu kalau ditempatkan di rak novel.

    1. kebalikan sama saya. kalau saya sih justru sering melihat tapi tak pernah niat beli. sampai akhirnya setelah 2 bulan melihatnya nangkring, saya beli juga deh. dan 2 bulan setelah beli, akhirnya saya selesai juga membacanya dan membuat review.

  2. Hai mas!
    Ini kali pertama mampir ke sini. So you like reading this kind of story? Then see this http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Asad . Panjenengan musti baca “The Road to Mecca” nya Muhammad Asad, http://en.wikipedia.org/wiki/The_Road_to_Mecca_%28book%29 . Keturunan Yahudi yang menjadi salah satu penasihat Ibnu Saud di saat pendirian kerajaan Arab Saudi (jangan heran hehe). Dia salah satu pendiri negara Pakistan dan jadi wakil Pakistan pertama di PBB (jangan heran juga). Dia adalah the world citizen, salah satu warga dunia modern yg buat saya terkaget-kaget🙂

    1. Saya pernah lihat buku “Road to Mecca”-nya Muhammad Asad di Tobucil Bandung tahun 2006. Sayangnya, ketika saya mencari lagi buku itu dari tahun 2008 sampai sekarang belum ketemu juga, bahkan saya juga telp penerbit namun stoknya sudah kosong. Boleh dibagi informasinya bisa mendapatkan buku itu itu dimana ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s