Rapat yang Lama

Entah mengapa saya tak suka rapat yang lama. Hal ini berakibat juga, saya cenderung tidak suka ngobrol ngalur-ngidul yang gak jelas agendanya apa.

Alasan pragmatisnya adalah saya tak memiliki pembantu. Ya, jadi usai kerja, banyak pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan. Hmmm… Apa ini juga jadi penyebab mengapa orang barat cenderung tidak suka ngobrol ngalur ngidul juga karena tidak punya pembantu? Sedikit-banyak, bisa benar.

Oleh karena itu saya benar-benar terinspirasi oleh ruang rapat berdiri di twitter.

Ternyata budaya lisan di Indonesia sangat kuat. Jika kita menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol dengan orang lain, faktor kedekatan akan bertambah. Keakraban. Nah, tapi masalahnya, berapa banyak waktu yang perlu disediakan?

Belum lagi jika di tengah-tengah obrolan ada orang lain datang nimbrung. Obrolan bisa berulang lagi. Hadeuuuh, yang sudah didiskusikan, diulang lagi. Belum lagi, kalau agenda dimulai terlambat. Ada waktu lagi yang terbuang. Hadeuuuh lagi.

Kesimpulan: orang tropis memang memiliki definisi waktu yang berbeda🙂

2 pemikiran pada “Rapat yang Lama

    1. Yah lupa baca di URL mana Ndo. Yang jelas sih, supaya rapat tidak lama, rapat dibuat di ruang yang tidak terlalu luas. Akibatnya harus berdiri, sehingga rapat tidak akan lama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s