Belajar Otodidak

Sekolah adalah candu. Sekolah adalah belenggu kreativitas. Masa-masa sekolah adalah masa paling menyenangkan.

Begitulah sedikit banyak kutipan tentang sekolah. Ada yang pro, ada yang kontra. Saya akan mulai menulis dengan yang kontra.

Candu. Sekolah ibarat narkotika, yang membuat civitas akademika asyik dalam keadaan kecanduan. Mereka tak tahu apa yang dicari dengan sekolah ini. Baik dari siswa, maupun para pendidik dan pengajar. Mulai dari SD, SMP, SMA, S1, S2, S3, teruuus hingga postdoc malah. Tapi apa yang dicari? Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hanya karena sistem mengharuskannya. Tak ada motivasi yang benar-benar dicari.

Sekolah juga membelenggu kreativitas. Saya ingat betul, ada seseorang yang cerita pada saya, anaknya sangat kreatif saat masih bersekolah di Inggris. Tapi begitu pulang ke Indonesia, anaknha stres karena harus ikut aturan ini itu dan harus seragam. Sekolah membunuh kreativitas. Sudah banyak yang mengulas soal ini.

Sekarang dari sisi positif, pro. Sekolah mencerahkan. Sekolah lah yang mampu membuat seseorang naik dari kelas ekonomi yang rendah ke tingkat selanjutnya. Sekolah mendatangkan pertemanan, jaringan. Dengan interaksi selama di sekolah, sesungguhnya kita sedang menempa diri sendiri. Buku-buku macam 9 Summers 10 Autumn, Trilogi 5 Menara, dan Indonesia Mengajar, mengajak kita kembali merenungkan arti pendidikan sesungguhnya.

Lalu kembali ke judul. Apa hubungannya dengan otodidak?

Sekolah secara tak sadar memaksa kita untuk belajar. Memacu diri. Ujian, tugas, semuanya sebenarnya akan kembali pada kita. Nilai hanyalah bentuk kuantitatif dari proses pendidikan yang kita alami.

Dulu belum ada Internet, tapi sekarang saya bisa mengambil mata kuliah Machine Learning di Stanford. Kuncinya tetap ada di diri sendiri. Pembelajar otodidak dituntut lebih mandiri. Mendisiplinkan diri membaca, melatih, hingga menilai kemampuan sendiri.

Usai keluar dari kampus, saya tetap berusaha belajar otodidak. Yang paling sulit adalah mengerjakan latihan dan menilai kemampuan diri sendiri. Tulisan ini sebenarnya terinspirasi juga dari Yando, yang menulis bagaimana caranya belajar otodidak.

Ada satu lagi yang menarik untuk dibahas juga adalah belajar dari komunitas atau teman. Nanti saya akan tuliskan di kesempatan yang lain.

3 pemikiran pada “Belajar Otodidak

  1. Pertanyaan “apa yang dicari?” tergantung dari masing-masing orang. Setiap orang punya motivitasi yang berbeda. Dan kita tak tahu semulia apa motivasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s