Tentang Menjadi Spesialis

Pagi ini saya dikabari istri saya bahwa Mun’im Idris meninggal dunia. Sebelumnya saya tak tahu siapa ini Mun’im Idris ini. Siapa sangka, hari ini saya mendapat kesempatan mensholatkan beliau, walau akhirnya saya tertinggal jamaah.

Begitulah hidup saat memilih menjadi spesialis. Mun’im tidak akan setenar Jokowi, yang menjadi media darling. Mun’im memilih jalannya sendiri. Menjadi pakar forensik. Keahliannya dibutuhkan untuk memecahkan masalah forensik.

Lalu, baiknya pilih jalur mana? Jalur karier manajemen, atau menjadi pakar di bidangnya alias spesialis?

Saya lihat keduanya memiliki tantangan tersendiri. Memang dunia manajemen memiliki jenjang yang lebih jelas dibandingkan dengan jalur spesialis. Termasuk jenjang dalam hal gaji, tunjangan, honor, dst.

Keduanya saling melengkapi. Untuk memiliki orang dengan kemampuan spesialis canggih perlu orang dengan kemampuan manajemen yang baik. Manajemen yang baik saja takkan bisa dieksekusi dengan baik tanpa adanya orang-orang dengan keahlian yang mumpuni.

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja mencoba berkontribusi ke sqlmap, salah satu dari ribuan open source project yang ada. Saya melakukan pull request, dan diterima oleh sang pemilik proyek. Memang belum sampai refactoring code.

4 pemikiran pada “Tentang Menjadi Spesialis

    1. Kesayangan media Wan. Jadi media suka meliput Jokowi karena banyak pembaca yang suka lantas pengiklan di media pun juga suka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s