Menjadi Maestro

Apakah seorang pakar itu dilahirkan atau dibentuk?

Jika dilahirkan maka takkan banyak orang yang berlatih sungguh-sungguh untuk menjadi pakar, maestro dalam bidangnya. Namun mengapa banyak orang yang berlatih sungguh-sungguh namun tak jadi maestro? (Err… apa iya banyak orang yang berlatih sungguh-sungguh?)

Affandi. Lukisannya melampaui batas. Ia adalah maestro. Pencilan. Hanya satu dari sekian juta orang. Seorang maestro ini umumnya pencilan. Ia berada di luar sistem orang kebanyakan.

Ada yang berpendapat, seorang maestro memang memiliki bakat. Bakat sebagai faktor internal. Sementara berlatih sebagai faktor eksternal.

Menikmati karya maestro ini sungguh memuaskan hati. Penyanyi misalnya: mampu berimprovisasi begitu hidup, vokalisasi yang bulat, hingga kemampuan sol-mi-sa-si yang begitu mirip dengan alat musik.

Jadi, untuk menjadi seorang maestro itu lebih ke seni daripada sains/teknik? More art than science? Sesuatu yang perlu dijiwai dan dirasakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s