Atmosfer Kota

Saya baru pernah merasakan tinggal di tiga kota. Tinggal di sini dalam arti menghabiskan waktu atau bermukim lebih dari sebulan. Dan lantas berinteraksi dengan kota tersebut. Hidup di kota ini. Dan ketiga kota itu adalah Jakarta, Jogjakarta dan Bandung.

Jakarta adalah ibukota. Pusat, ramai, padat. Semua ada di Jakarta. Kota yang sungguh besar. Yang apabila kita melintasi Pondok Bambu hingga Harmoni, bisa jadi kita melintasi Klaten hingga Jogjakarta.

Teman saya di Jogjakarta pernah bertanya kalau mau pergi dari X ke Y naik bus apa? Ya saya jawab cari bus arah X menuju Y. Nomornya? Tanya ia lanjut. Jelas saya tak tahu. Mana saya hafal nomor bus di Jakarta. Di Jogja seingat saya hanya ada belasan bus. Dan semuanya diberi nomor: jurusan 1, 2, 3, ….

Ilustrasi lain adalah saat teman saya di Jogjakarta tanya saya berasal dari SMA berapa? 81, jawab saya. Wah banyak sekali SMA negeri di Jakarta. Di Jogja kurang dari 20 SMA negeri.

Lalu Jogjakarta. Kota pelajar. Banyak sekali pelajar dari berbagai belahan daerah Indonesia yang bersekolah hingga kuliah di sini. Salah seorang teman saya asal Lampung sudah sejak SMP hidup di Jogja. Jogja kota yang bersahabat. Penduduknya tak seburu-buru kota Jakarta. Masih ada ruang dialektika filosofi dan kebudayaan.

Satu yang pasti, akan terbawa untuk berbahasa Jawa.

Bandung. Kota yang kini dihubungkan oleh jalan tol dengan ibukota. Saya mengenal kali pertama kota Bandung dari kakak saya. Bayangan saya akan Bandung saat itu adalah kota yang dingin dan kreatif. Pelarian terdekat kaum muda Jakarta.

Saat kuliah saya tak terlalu banyak berinteraksi dengan urang sunda. Akibatnya, ya kemampuan basa sunda saya segitu-gitu saja. Ada yang bilang juga kalau kuliah di ITB memang belum tentu bisa jadi basa Sunda. Berbeda dengan saat kuliah di UGM.

Selain sebagai kota kreatif, bayangan saya akan Bandung adalah tempat makannya asyik-asyik. Khususnya daerah utara. Penduduk kota Bandung juga tak seburu-buru kota Jakarta.

Apakah yang paling berharga dari kota? Apakah kulinernya? Apakah obyek wisatanya? Tidak. Yang paling berharga dari suatu kota adalah para penduduknya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s