Permasalahan Kolaborasi di Era Web

Ada permasalahan mendasar yang perlu dipecahkan saat berkolaborasi di era web. Kita masih sering tukar-menukar dokumen menggunakan format office (binary). Hal ini tidak salah, namun menyulitkan.

Saya harus mengunduh, lalu membuka, lalu memperhatikan lagi catatan perubahan. Apa saja yang sudah diubah. Lalu saya harus menyunting akhir. Berarti saya membuat perubahan lagi. Lalu saya Save-As lagi. Dengan nama file apa? Jika ada konvensi lebih baik, jika tak ada konvensi berantakan semua. Selesai Save-As, saya masih perlu unggah.

Permasalahan ini sebenarnya bisa dipecahkan jika kita tidak menggunakan format office (binary) untuk membuat dokumen. Sayangnya, kurva belajar menggunakan tool ini tak mudah. Belum lagi waktu untuk belajar versioning tool seperti git.

Saya masih percaya LaTex adalah format terbaik, tapi ya tidak mudah. Dan tak semua orang punya waktu untuk mempelajari LaTex. Masalah internal di LaTex adalah keterbatasan. Barangkali karena kita lebih terbiasa dengan tampilan WYSIWYG (What You See Is What You Get).

LaTex is so 80’s😀

Sphinx saya lihat cukup menjanjikan. Bisa dilihat dengan format web dan bila ingin dicetak bisa ke bentuk PDF atau epub (untuk tablet). Belum lama ini, saya dengar pandoc lebih keren. Ada yang sudah coba pandoc?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s