Indera Tunanetra

Pagi ini saat di dalam Transjakarta seorang tunanetra naik dari halte SMK 57. Transjakarta kali ini kosong. Barangkali karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 lewat. Atau bisa juga karena ada beberapa bis merah yang diperbantukan ke koridor 6.

Sang penumpang tunanetra ini pun dibantu didudukkan oleh petugas di kursi prioritas. “Turun di Mampang”, begitu saya dengar dari kejauhan.

Saya pun turun di Mampang. Karena lebih dekat dengan pintu belakang, saya putuskan untuk turun dari pintu belakang. Sang penumpang tunanetra pun saya lihat ikut turun dengan dibantu petugas on board Transjakarta.

Petugas on board Transjakarta tak bisa menemani hingga naik dan turun halte Mampang. Saya pun menawarkan bantuan. Saya tak memiliki janji di pagi hari ini, sehingga waktu saya fleksibel.

Saya gandeng tangan sang tunanetra ini. Saya tanya, “Mau ke mana Pak?”. “Mau ke Blok M”, jawabnya singkat. “Oh berarti naik Kopaja ya?” tanya saya lagi. Lalu ia menimpali lagi dengan cepat “Kopaja atau Metromini”.

Saat saya tuntun, saya perhatikan ia begitu mahir melangkah. Hanya dengan bermodalkan tongkat, ia tahu kapan harus naik/berbelok/turun. Saya pun berpisah saat Metromini 75 datang. Saya bantu memberhentikan Metromini ini, dan ia pun naik dengan sigap.

Bagi mereka kebanyakan yang memiliki panca indera, hidup terasa keras. Kita lebih suka mengeluh daripada bersyukur.

Lantas, nikmat manakah yang kau dustakan?

2 pemikiran pada “Indera Tunanetra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s