Cerita 1 Taiwan: Menguras Tabungan

Saya coba buat cerita berseri tentang kepergian ke Taiwan kali ini. Cerita berseri ini sebenarnya berguna buat saya sendiri dan untung jika bisa berguna untuk orang lain.

Usai mendapatkan email dari panitia bahwa paper saya diterima, saya senang dan bangga. Segera saya tunjukkan kepada istri email ini. Saya senang dan bangga, namun saya tahu, saya belum tentu bisa berangkat.

Sambil berjalannya waktu, saya cari tahu informasi bagaimana cara pergi ke Taiwan. Taiwan? Wah bahkan saya tak tahu lokasi negara ini. Saya hanya memasukkan saja proposal saat ada CFP dari PyCon APAC 2014. Mulai dari informasi persyaratan visa, lokasi mengurus visa, hingga biaya tiket pesawat.

Saat ada kesempatan berbicara ke atasan, saya ungkapkan bahwa saya akan (hehe yang ini disensor dulu). Lalu hal kedua yang saya sampaikan adalah mengabari bahwa paper saya diterima di konferensi Python Asia-Pasifik 2014. Saya ungkapkan juga saat itu bahwa saya belum tahu, apakah dari panitia bisa memberikan dukungan finansial atau tidak. Saya juga merasa takut tidak enak dengan rekan-rekan yang lain, apabila saya kembali meminta dukungan dan kesempatan dari kantor. Namun atasan saya mengatakan bahwa ini merupakan suatu prestasi.

Waktu pun terus berjalan. Dari panitia mengkonfirmasi mereka tidak bisa memberikan bantuan finansial untuk tiket. Yang dapat mereka tanggung adalah biaya tiket acara. Everyone pays adalah filosofi acara ini. Jadi semua relawan/panitia acara ini perlu membayar, walaupun nantinya bagi mereka akan dikembalikan (refund).

Waktu kembali berjalan. Saya pun memberanikan datang ke kantor tempat mengurus visa Taiwan. Ternyata banyak TKI yang berusaha bekerja di negeri ini. Saya cari tahu syarat-syarat dan prosedur untuk mendapatkan visa Taiwan. Termasuk biaya-nya.

Saya kembali kirim email ke kantor, apakah bisa mendapatkan dukungan finansial. Akhirnya, dari kantor menyanggupi memberikan dukungan finansial. Dari kantor tidak bisa memberikan dukungan penuh. Dukungan finansial dari kantor ini sebenarnya cukup untuk membeli tiket pesawat jika pesawat yang pilih adalah Malaysian Airlines. Setelah saya diskusi dengan istri, akhirnya diputuskan saya pilih pesawat China Airlines. Selisihnya adalah USD$200.

Satu hal yang membuat saya mengalami mixed feeling adalah saat saya pergi ke Taiwan, istri juga akan pergi. Sehingga saya tak bisa ikut mengantar ke bandara. Hal ini cukup membuat saya bingung untuk jadi pergi atau tidak. Akhirnya setelah diskusi panjang lebar dengan istri, saya putuskan untuk berangkat ke Taiwan, dengan catatan uang yang harus dikeluarkan sendiri tidak diambil dari tabungan rumah tangga.

Pendek kata dari tabungan saya pribadi.

Visa Taiwan akhirnya jadi satu bulan sebelum acara. Saya sengaja mengurus saja visa ini walaupun belum pasti akan berangkat atau tidak. “Masalah jadi berangkat atau tidak, itu nanti”, begitu pikir saya.

Lalu, dukungan finansial dari kantor saya belikan tiket China Airlines (plus selisih USD$ 200). Tiket pesawat sudah di tangan, sekarang saya tinggal menghitung-hitung biaya akomodasi selama saya di Taiwan. Saya tanya panitia lokal, apakah ada pembicara lain yang bersedia berbagi kamar (dan berbagi tagihan hotel), namun tak ada. Panitia lokal sudah memberikan harga khusus staf untuk menginap di hotel tempat acara.

Karena harga tiket pesawat jika pergi selama 3 hari sama dengan jika pergi selama 7 hari, saya putuskan untuk memperpanjang kunjungan selama di Taiwan. Yang berarti biaya yang bertambah adalah biaya akomodasi. Untuk menghemat biaya akomodasi, saya berencana menginap semalam di Taoyuan Airport semalam. Rencana yang belakangan tidak jadi karena saya justru mendapatkan pengalaman baru dengan menginap di tempat salah seorang panitia lokal di Hsinchu.

Saya pun juga bertanya berapa biaya sekali makan di Taiwan. Saya benar-benar perlu merinci kebutuhan pengeluaran selama di sana. Dari hasil perhitungan awal, uang tabungan saya benar-benar mepet untuk biaya akomodasi/makan/perjalanan lokal selama di sana. Tidak ada anggaran yang tersisa untuk jalan-jalan dan beli oleh-oleh.

Belakangan, rezeki datang dari pintu-pintu yang tak terduga🙂

9 pemikiran pada “Cerita 1 Taiwan: Menguras Tabungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s