Cerita 3 Taiwan: Batasan Bahasa

Language barrier. Saya bisa berbahasa Inggris. Saya rasa kemampuan bahasa Inggris saya sedikit di atas rata-rata. Memang saya jarang membaca novel berbahasa Inggris. Menulis bahasa Inggris pun masih coba-coba.

Language barrier, batasan bahasa, ternyata bukan sekadar kemampuan berbahasa dalam artian mampu memahami, mampu menulis dan mampu membaca, tapi lebih dari itu. Language barrier adalah batasan saat kita akan mengungkapkan segala sesuatu, mengkomunikasikannya dengan orang lain.

Saya tak terbiasa mengungkapkan perasaan saya dalam bahasa Inggris. Ini yang paling sulit.

Satu kutipan soal traveling yang paling saya suka dari Agustinus Wibowo adalah (saya lupa persisnya)

“Pergilah, nanti akan ada saatnya kita kembali menjadi anak kecil. Saat kita tak tahu sama sekali orang di sekitar kita berbicara apa.

Dan hal inilah yang terjadi saat saya turun di Stasiun Nangang.

Naik bus dengan membawa koper adalah pilihan terakhir. Saya lebih baik jalan kaki membawa koper daripada harus tersesat naik bus. Jadilah saya berusaha mencari taksi untuk membawa ke Academia Sinica.

Tak ada tempat perhentian khusus untuk taksi. Jadi saya jalan-jalan sebentar lalu saya menghentikan taksi. Dengan kendaraan setir kiri, membuat saya agak kikuk memberhentikan taksi di sisi kanan jalan.

Saya lupa, saya tak meminta alamat Academia Sinica dalam aksara mandarin. Jadi yang bisa saya tunjukkan adalah alamat dalam bahasa latin. Saat taksi berhenti, saya sempat kaget melihat ada dua orang di dalam taksi. Satu pengemudi, laki-laki dan satu lagi perempuan duduk di sampingnya.

Saya berikan ponsel saya untuk menunjukkan alamat (ponsel menjadi barang terpenting kedua setelah paspor dalam perjalanan). Saya percaya saja. Takut juga ponsel saya dibawa lari sama taksi ini sih sebenarnya.

Mereka berdua tak mengerti. Haduh mau gimana lagi saya. Saya tak bisa mengerti sama sekali mendengarkan percakapan dalam bahasa Mandarin. Akhirnya sang perempuan bertanya, “Where are you come from?”. Saya jawab, “Indonesia”.

Mendadak saya mendengar jawaban ini dari sang perempuan, “Ya sudah kalau gitu kita ngomong Bahasa Indonesia saja”.

Dan kemudian kebaikan-kebaikan kepada saya terus berdatangan. Mulai dari tawaran sang istri supir taksi untuk berhenti di sevel agar saya beli makanan dulu, pemberian nasi beserta lauk, thingga memastikan saya benar-benar bisa menginap di Academia Sinica.

Ternyata perempuan ini adalah istri supir taksi yang sudah menetap di Taiwan selama +/- sepuluh tahun.

2 pemikiran pada “Cerita 3 Taiwan: Batasan Bahasa

  1. hay kak zaki
    kakak ke academia sinica ma riset apa bgmna ?
    kebetulan saya mulai september riset disana, dan ini mau tanya2 mengenai keadaan sana
    ada kontak yg bisa saya hubungi ?
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s