Nasionalisme yang Berjarak

Tahun 2014 merupakan tahun politik negara Indonesia. Di tahun ini, terjadi pemilu wakil rakyat, presiden dan wakil presiden. Karena SBY sudah dua kali terpilih, maka pemilihan presiden dan wakil presiden kali ini menjadi lebih seru. Tampuk kepemimpinan nasional akan berganti.

Sebagai generasi yang lahir tahun 80-an, jujur saja saya merasa berjarak dengan nasionalisme. Rasanya saya lebih akrab dengan dunia asing daripada dengan dunia dalam negeri. Apalagi saya berkuliah di bidang teknologi yang rasanya semua kaidah berasal dari luar.

Perbedaan perlakuan sebagai warga negara saya rasakan betul saat ingin pergi ke luar negeri. Kala itu adalah ke Lisbon, Portugal. Teman saya yang berkewarganegaraan Malaysia dapat langsung saja memesan tiket dan terbang tanpa harus dipusingkan oleh urusan visa.

Mengutip tulisan Agustinus Wibowo, perlakuan kita sebagai manusia ditentukan oleh selembar paspor.

Jadi, pentingkah nasionalisme itu? Saya takkan jawab. Termasuk dalam tulisan. Bagi saya yang lebih penting adalah semangat membawa perubahan, semangat kerja keras, semangat membuat segala sesuatu lebih baik. Dimulai dengan lingkungan sendiri.

Daripada pulang ke tanah air dan menyesal lantas marah-marah. Toh kita diberikan kebebasan untuk menetap di bagian bumi mana. Dan bumi terlalu luas untuk dikotak-kotakkan menjadi suatu bagian negara ini-itu.

2 pemikiran pada “Nasionalisme yang Berjarak

  1. Lebih baik tinggal di bagian bumi yang lain dengan tetap memupuk rasa nasionalisme, drpd tinggal di bumi nusantara tapi ga ada cinta2nya sama bangsanya. *eh*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s