Cerita Taiwan 5: Rafting di Sungai Xiuguluan

Cerita kali ini merupakan cerita ekstra. After conference. Bonus track. After PyCon.

Dengan mengetahui bahwa Tzer-jen Wei mengajak Fernando dan Andreas ke Hualien, saya putuskan untuk ikut rombongan ini ke Hualien. Saya berangkat dengan kereta yang berbeda karena memang saya ikut di tengah-tengah, sementara Fernando dan Andreas sudah diatur jauh-jauh hari oleh Tzer-jen. Fernando dan Andreas diundang Tzer-jen untuk memberikan kuliah umum di kampusnya, NDHU (National Dong Hwa University).

Kami berangkat pukul 7 pagi. Sebelum tiba di lokasi, kami sarapan dulu di seven eleven. Untungnya ada Joanne, gadis asal … (duh lupa nama kotanya) yang ikut dalam rombongan. Joanne membantu kami mencari makanan untuk sarapan di seven eleven. Saya sendiri meminta bantuan Joanne untuk dicarikan sarapan sejenis lemper tapi bentuknya segitiga. Haduh, saya foto gak ya? Saya minta dicarikan yang rasanya asal bukan babi. Saya pun diajarkan bagaimana teknik membuka kemasan makanan ini. Jadi di luar lemper ada semacam lapisan hijau kering yang dibungkus terpisah.

Rasanya enak. Saya habis dua untuk sarapan. Saya juga beli pisang segar untuk sarapan. Berikut foto saya, Fernando dan Joanne.

Kami menunggu agak lama untuk kemudian naik kapal dan memulai rafting. Jadi kami sempat berjalan-jalan di lokasi sekitar. Pemandangannya sungguh bagus. Langit biru dan bersih.

Sebenarnya yang lebih mengagumkan lagi adalah pemandangan dari perahu saat rafting. Sayangnya tidak ada satupun dari kami yang membawa kamera dalam perjalanan rafting ini.

Rafting merupakan salah satu mimpi duniawi saya

dan tanpa saya sangka, mimpi itu terwujud di Hualien, Taiwan.

Dari kami berenam, hanya Fernando yang paling berpengalaman. Jadilah Fernando mendayung di posisi paling depan. Ia juga yang menjadi kapten/nahkoda. Fernando memberikan komando, bagian mana yang mendayung. Apakah kanan atau kiri. Apakah perlu mendayung dengan kuat atau cukup dengan perlahan saja.

Di tengah perjalanan, saya bertukar posisi dengan Joanne. Saya pindah ke samping Fernando, di depan. Belakangan saya dan Fernando bertukar posisi kanan-kiri agar tangan tak pegal.

Perjalanan rafting ini memakan waktu hingga hampir 3 jam.

Panjang rute yang kami tempuh sekitar 22 km. Dalam rombongan ada 3-4 perahu serupa dengan 2 perahu yang dilengkapi dengan motorboat. Perahu yang dilengkapi dengan motorboat ini berguna untuk menarik kapal apabila kami menyangkut.

Sungguh beruntung kami memiliki Fernando. Ternyata, ia bukan cuma jago di bidang saintifik dan IPython, tapi Fernando juga jago dalam hal rafting. Wow. Dalam perjalanan bahkan ia cerita pernah menghabiskan waktu selama seminggu di perahu di Amerika Serikat bersama rekannya yang memang peneliti sungai.

Dalam hati saya berujar, “Pengalaman outdoor seru saya apa ya?”.

Fernando menjadi kapten yang handal. Ia memutuskan apakah kami akan ke kiri atau ke kanan. Rute mana yang harus dilewati. Kapan harus membelok tajam, kapan harus mengayuh kuat, dan juga kapan harus beristirahat.

Mendayung selama hampir 3 jam sungguh menguras tenaga. Tangan saya sempat gempor dan mati rasa juga. Beberapa kali perahu kami ikut ditarik. Sesuatu yang seharusnya tak perlu mereka lakukan karena kami sebenarnya bisa mengarungi Sungai Xiuguluan dengan baik.

Rafting di Sungai Xiuguluan meninggalkan pengalaman tersendiri bagi saya. Bagaimana kerja tim diterapkan, bagaimana pemimpin mengambil keputusan, dan tentu bagaimana sungguh indahnya pemandangan tebing di sepanjang sungai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s