Rumput Sendiri

Pagi ini, saat sedang bekerja (hayuk singsingkan lengan baju!), saya sambi bercakap-cakap dengan teman kuliah dulu. Belakangan saya baru tahu ternyata besar beasiswa dari macam-macam instansi itu beragam.

“Wah beasiswa dari ternyata lebih besar dari tho!”, begitu komentar saya.

“Ente di sana kerja apa kuliah?”, tanya teman saya.
“Istri yang kuliah. Saya antar-jemput anak saja pakai sepeda :D”, jawab saya.

Tujuan utama saya ke sini adalah bukan untuk bekerja. Saya ingin menemani Zaidan dan mendampingi istri saya. Itu saja.

Ada perasaan iri saat mendengar uang beasiswa yang besar, tapi lalu saya coba kembali melihat diri sendiri. Melihat halaman sendiri. Melihat rumput sendiri. Dan selalu mencoba bersyukur dengan apa yang ada.

Bisa jadi, ada nikmat-nikmat lain yang tak terlihat. Nikmat sehat. Kesenangan saat bisa mengantar Zaidan sekolah. Mengajaknya mengobrol saat ia ada di belakang boncengan. Saat mengajaknya menikmati story time. Saat membuat mainan memanfaatkan kotak tissue, paper roll.

Saat bisa bangun pagi di rumah, tanpa harus tergesa-gesa keluar rumah untuk pergi ke tempat kerja.

Satu pemikiran pada “Rumput Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s