Menulis Sebagai Proses Belajar

Semalam, saat pergi dengan teman-teman mahasiswa (catatan: saya sendiri yang bukan mahasiswa), saya mendengar selentingan suara dari seberang tempat duduk. Kami berlima duduk berhadap-hadapan. “Saya membaca terus, tapi saat akan menulis. Blank. Bingung mulai dari mana”, begitu.

Menulis itu memang tidak mudah. Apalagi tulisan akademik. Ada kaidah-kaidah yang perlu dipatuhi. Tapi seperti kata Master Shifu, dalam Kungfu Panda, “Tidak ada resep rahasia. Yang ada adalah latihan”. Belum lagi menulis dalam bahasa bukan bahasa ibu.

Salah satu alasan saya berusaha terus konsisten menulis di blog ini adalah sebagai bagian dari saya belajar sendiri. Menulis membantu saya merangsang syaraf otak saya untuk mencerna apa yang saya pelajari. Tujuan utama saya menulis di blog ini adalah untuk saya sendiri. Bukan untuk orang lain. Bukan untuk membuktikan apa-apa ke orang lain.

Semalam sebelum tidur, saya sempatkan menonton salah satu video PyCon Australia 2014. Akibatnya saya jadi tidur larut. Bangun pagi lalu kembali tidur lagi.

Curtis Maloney, yang selama ini mengajar dalam Melbourne Django School, memberikan arahan bagaimana cara yang baik agar bisa dibantu.

XY Problem. X: Bagaimana menampilkan RSS feed dalam satu halaman? Y: Siapakah partai politik pemenang pemilu? XY problem merupakan istilah untuk menggambarkan salah sambung. Tidak nyambung.

2 pemikiran pada “Menulis Sebagai Proses Belajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s