Resensi Shaun The Sheep The Movie

Pada musim liburan sekolah kemarin, kami memutuskan untuk mengajak Zaidan menonton di bioskop. Sebelumnya, kami sudah melihat iklan bahwa Shaun The Sheep The Movie akan mulai diputar di bioskop saat mulai liburan sekolah.

Kami sepakat untuk mengajak Zaidan menonton film ini karena saat waktu menonton TV di rumah, Shaun The Sheep merupakan salah satu film favorit-nya. Saat di rumah, saat Shaun The Sheep merupakan saat ia makan buah sambil menonton.

Sayangnya, saat akan diajak nonton Shaun The Sheep The Movie, Zaidan justru rewel. Dimulai dari perjalanan di dalam kereta Metro menuju City. Ia tidak mau duduk sendiri, maunya dipangku. Lalu saat tiba di stasiun Melbourne Central, masih juga ribut. Hingga akhirnya nangis.

Pendek cerita, kami jadi menonton namun pada jadwal pemutaran berikutnya.

Film dibuka dengan sedikit flashback saat Shaun dan teman-teman masih kecil. Bitzer (saya baru tahu saat menonton!), sang anjing penjaga pun juga masih kecil. Termasuk sang penggembala saat masih muda. Lalu mereka berfoto bersama di desa, tempat mereka hidup.

Cerita dibuka dengan suasana yang rutin, terus menerus. Setiap pagi, ayam berkokok. Sang penggembala bangun. Bitzer ikut bangun. Shaun dan teman-teman menjalani ritual sebagai hewan ternak. Keluar dari kandang, bermain di luar, dihitung oleh Bitzer, termasuk dipotong bulu oleh penggembala.

Hingga suatu hari, Shaun memiliki ide untuk kabur dari peternakan dan memulai liburan. Sama dengan yang ada di film, Shaun menggambar pada papan tulis hitam, menjelaskan rencana pada teman-temannya.

Shaun dan teman-teman berencana membuat penggembala tertidur di dalam karavan. Rencana awal berhasil hingga karavan pergi meluncur hingga ke City. Bitzer mencoba mengejar tapi terkena lampu merah. Ia berhenti menunggu lampu kembali hijau, namun penggembala sudah pergi terlalu jauh ke kota.

Penggembala mengalami amnesia, lupa ingatan, karena kepalanya terbentu saat karavan berhenti di City. Bitzer tidak bisa masuk rumah sakit karena anjing dilarang masuk rumah sakit.

Saat tersadar, penggembala menjadi selebritis karena ia menciptakan trend potong rambut baru di City. Ia terlupa bahwa ia sebenarnya penggembala.

Shaun dan teman-teman belakangan menjadi kangen dengan penggembala. Shaun pun memutuskan pergi ke City, sendiri. Belakangan teman-teman Shaun menyusul. Dan ternyata di City, ada seorang petugas yang bertugas menangkap hewan-hewan liar yang berkeliaran di City. Shaun dan teman-teman pun bermain kejar-kejar-an dengan petugas ini.

Dari durasi 10 menit, hingga hampir dua jam, Shaun The Sheep The Movie memiliki cerita yang menarik. Tidak mudah kan, menciptakan cerita panjang dari yang biasanya pendek. Dan masih sama dengan versi TV, dalam film ini tidak banyak dialog. Semua diceritakan dengan gambar dan suara.

Zaidan senang diajak kali pertama nonton di bioskop. Walaupun sesekali ia berteriak takut dan minta pulang. Hihihi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s