Pendidikan untuk Anak

Salah satu PR yang paling sering membuat sakit kepala para orang tua di Indonesia adalah mencari sekolah “terbaik” untuk anak(-anak)nya. Biar bagaimana, biasanya yang lebih sering sakit kepala adalah sang Ibu. Eh atau sang Bapak cenderung lebih cuek?

Sebelum berbicara lebih lanjut, saya mau coba refleksi sedikit tentang sekolah saya. Saya pernah TK di dekat rumah. Lokasi dekat rumah adalah alasan yang paling praktis. Lalu TK besar saya pindah ke Rawamangun, 30 menit jika ditempuh dengan mobil di tahun 1985-an. Jika ditarik ke tahun 2010-an, bisa jadi waktu tempuh menjadi 60-90 menit sekarang. Mengapa saya pindah ke TK yang jauh, karena orang tua merencanakan saya masuk ke SD di TK Rawamangun ini.

SD saya bukan SD negeri. Saya jadi tak merasakan seragam merah-putih. Seragam paling Indonesia. Dengan lokasi yang jauh, saya berangkat diantar orang tua dengan mobil yang sekalian berangkat ke kantor. Untuk pulang, saya ikut mobil jemputan. Sampai rumah biasanya sudah pukul 14.

Biarpun SD swasta, tapi tidak termasuk SD swasta elit, biarpun teman-teman banyak yang dari kalangan berada juga. Saat teman-teman merayakan ulang tahun di Dunkin Donuts, saya merayakan ulang tahun dengan menggelar pesta kebun bersama keluarga di TMII dengan nasi tumpeng. Tak masalah sih bagi saya. Saya tak pernah merasa minder dengan kondisi orang tua saya saat SD.

Masuk SMP, saya sekolah di SMP negeri dekat rumah. Belakangan saya baru tahu bahwa ibu saya merasa sedih saya bersekolah di SMP ini. Salah satu alasannya adalah bangunan SMP ini jauh lebih buruk dibanding SMP ibu saya. Hihihi… Biar bagaimana, SMP ini menjadi salah satu tempat saya melewati masa puber.

Menginjak SMA, saya masih bersekolah di dekat rumah. Secara akademik saya tidak ada masalah saat SMP biarpun bersekolah di bawah rata-rata karena saya tetap tekun belajar setiap hari, mandiri. Ceilah. SMA saya merupakan SMA unggulan di Jakarta Timur. Biarpun dekat, saya hampir selalu datang terlambat ke sekolah. Guru-guru sampai sudah hafal. Prestasi akademik saya masih lumayan lah saat SMA.

Lalu kuliah. Saat kuliah, semua ilmu yang saya dapatkan rasanya runtuh berguguran semua. Saya baru menemukan indahnya Matematika saat kuliah. Matematika sebelum kuliah sebatas berhitung saja.

Nah, sekarang giliran Zaidan yang bersekolah. Sekarang ini, saya tak pusing sekolah dengan Zaidan. Germain Street Kindergarten kami pilih karena salah satu lokasi kindergarten yang bisa dengan mudah dicapai dengan transportasi publik. Awalnya saya sempat berpikir untuk memasukkan ke islamic kindergarten. Saya sudah sempat ke sana, meminta formulir. Bahkan saya pernah ditelepon apakah jadi memasukkan anak ke sini. Akhirnya tak jadi. Selain karena lokasi yang sulit dicapai dengan transportasi publik, biayanya pun tentu lebih mahal dibanding sekolah publik.

Sekarang istri saya mulai menyingsingkan lengan baju, mencari sekolah untuk Zaidan, saat kami pulang nanti.

Di hari Minggu sore kemarin, tak sengaja saya menonton acara Ultimate-U yang dipandu Rene dan menghadirkan Anies. Anies kini duduk di kursi menteri.

Saya sendiri salut kepada Anies untuk program Indonesia Mengajar. Saya berharap saya bisa berbagi dalam program Indonesia Mengajar jika saja saya mampu memutarbalikkan waktu.

Apakah sekolah sama dengan pendidikan? Rasanya pendidikan lebih dari sekolah. Namun sekolah tetap penting. Sekolah menjadi ruang untuk anak bertemu dengan teman-teman seumurannya. Generasinya.

Sekolah memang penting, namun rumah tetap tak kalah penting. Rumah lah “sekolah” pertama anak. Ternyata, di Victoria-pun banyak juga orang tua yang memilih untuk home schooling bagi anak-anaknya.

Apakah yang orang tua harapkan dari anak-anak-nya yang mulai bersekolah? Apakah profesi yang menjanjikan? Apakah kebahagiaan saat anaknya menemukan minatnya?

Berbicara soal profesi yang menjanjikan, ternyata hal yang sama terjadi juga di Australia. Pada salah satu acara kopi darat, saya bertemu dengan seseorang lulusan bioteknologi(?), saya lupa persisnya. Ia memilih keluar dari bidang ini karena pilihan profesi ini hanya memiliki rentang gaji antara 40-60 ribu dolar Australia per tahun.

Sudah larut malam, OK, saatnya saya menyingsingkan lengan baju.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s