Malas Menyetir Mobil

Sejak awal tiba di down under dalam hati saya sudah berujar untuk malas naik mobil. Entah mengapa saya malas naik mobil. Saat di Jakarta-pun, saya malas naik mobil. Di akhir pekan saat pergi bersama keluarga dan saat saya perlu tiba di tempat klien pagi-pagi. Lainnya, saya naik transportasi publik.

Saat istri saya bertanya, “Ini mau beli mobil gak?”, saya jawab tidak usah dulu. Dan beruntungnya saya bisa “bekerja” yang tidak memerlukan mobil. Teman-teman yang lain, memutuskan membeli mobil, dengan salah satu alasan adalah untuk bekerja. Mobil mereka butuhkan sebagai alat produksi. Haduh, bahasa-nya ekonomi pisan.

Maka jangan heran jika pemandangan yang lebih sering kami lihat adalah stasiun kereta dan halte bis.

Alasan lain malas membeli mobil adalah saya pribadi ingin merasakan hidup dengan transportasi publik di negara yang (katanya) transportasi publiknya lebih baik. Nah, ini bisa jadi ide tulisan sendiri.

Lalu alasan malas lainnya adalah saya malas mengurusi mobil di sini. Kalau ongkos jasa memperbaiki sepeda di bikery saja bisa $15, terbayang kan ongkos mengurusi mobil bekas. Memang harus tahu sih tempat-tempat bengkel yang terjangkau. Nah, saya juga malas mencari lingkaran ini.

Lha, ini kok jadi malas terus tulisannya. Padahal ini tulisan ditulis di pagi hari, pukul 7 pagi, dengan pemandangan pantai di jendela, disertai suara debur ombak, dan matahari yang baru saja menyinari.

Hihihihi…

2 pemikiran pada “Malas Menyetir Mobil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s