Budaya Melakukan Sendiri

Tak terasa sudah hampir satu setengah tahun tinggal di down under. Salah satu hal berbeda yang saya perhatikan di sini adalah kebiasaan melakukan semua sendiri.

Tulisan ini dipicu setelah kemarin saya mengunjungi hackernews ycombinator. Saya membaca catatan seseorang yang membuat cermin dengan latar belakang layar di belakangnya. Saya termasuk jarang membaca hackernews, ini kemarin karena sedang menunggu proses build saja yang ternyata memakan waktu hingga 10-menit-an setiap kali build.

Jadi saya tak terlalu heran saat sang penulis membuat frame dari kayu sendiri di garasi-nya. Lha wong rumah di sini kebanyakan besar-besar. Di dalam garasi mereka lengkap dengan segala macam peralatan. Mulai dari peralatan perawatan taman: mesin pemotong rumput, gunting, sapu, wheel barrow; lalu peralatan pertukangan; peralatan permobilan.

Lha di sini kan gak ada pembantu. Termasuk lagi budaya masak sendiri. Belanja. Susah banget ya, gak ada tukang ketoprak yang lewat. Gak ada tukang bakso di taman. Jadi kalau mau ke taman, harus masak dulu.

Semua dilakukan sendiri.

Saya memiliki tesis bos-bos kalau belum bos besar banget, masih nyetir sendiri. Bahkan pemimpin oposisi di sini pernah tertangkap basah memegang HP saat sedang menyetir. Sebelumnya ia menabrak mobil karena sedang terdistraksi mau mengambil laptop saat menyetir.

:B

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s