Kebijakan Mengantar Anak Sekolah

Anies Baswedan diganti. Kebijakan terakhir menteri ini soal mengantar anak sekolah di hari pertama mendapat beragam tanggapan. Kali ini akan saya menuliskan pandangan saya soal kebijakan ini.

Sebagai generasi dengan anak yang mulai masuk usia sekolah, bisa dibilang saya generasi orang tua yang baru. Biarpun saya tidak lama berkesempatan tinggal di luar negeri, tapi sedikit-banyak saya jadi mengerti bagaimana kondisi persekolahan di luar sana.

Saya berkesempatan merasakan bagaimana mengantar dan menjemput anak sekolah selama 1.5 tahun. Selama setahun, saya bersepeda sejauh 3.5 km sekali jalan. Jarak itu saya tempuh dengan waktu kurang lebih 15-20 menit.

Saat saya mengantar anak saya sekolah, semua anak-anak tidak ada yang diantar bukan oleh keluarganya. Entah diantar ibu-nya, atau kakek atau nenek-nya. Sedikit yang diantar oleh bapaknya, karena mayoritas bapak bekerja. Kecuali saya #eeaa.

Begitupun dengan menjemput. Sama.

Saat mulai masuk SD, mulai ada layanan after school care dan bahkan breakfast club. Breakfast club berarti anak-anak bisa diantar ke sekolah lebih awal, sebelum pukul 9, sehingga orang tua bisa bekerja tanpa terlambat. Lalu dengan after school care, anak-anak masih bisa di sekolah hingga orang tua selesai bekerja.

Sebagai catatan, masih sama. Yang mengantar dan menjemput anak-anak mayoritas adalah keluarga. Ada beberapa teman orang Indonesia yang menitipkan anaknya untuk dijemput karena orang tuanya bekerja. Masih sebagai catatan, after school care dikenakan biaya sekitar $10-15 per jam.

Kondisi sekolah yang dekat dengan tempat tinggal, infrastruktur jalanan yang baik, dan tidak macet, membuat mengantar/menjemput anak tidak sulit.

Saya lihat Anies berusaha membuat orang tua yang sibuk bekerja untuk sadar bahwa kewajiban mendidik anak itu bukan hanya ada di sekolah. Anak tetap perlu kedekatan dengan orang tua. Dan salah satunya adalah dengan mengantar anak ke sekolah.

Namun, di Indonesia, kondisinya begitu beragam. Kehidupan di kota besar bagaimana, kehidupan di daerah terpencil bagaimana. Belum lagi lokasi sekolah yang tak selalu berdekatan dengan tempat tinggal. Kualitas sekolah yang beragam, membuat orang tua kadang menyekolahkan anak di tempat yang tidak dekat dengan tempat tinggal.

Belum lagi macet. Belum lagi kalau kakak/adik bersekolah di tempat yang berbeda. Nah… satu kebijakan saja kan jadi rumit begini.

Lalu kalau saya lihat tanggapan orang-orang, generasi sebelum saya, melihat hal ini sebagai sesuatu yang tidak perlu. Mengapa? Karena saat mereka sekolah dulu, orang tua percaya saja. Jadi tak perlu ada acara antar-mengantar anak ke sekolah.

Nah beda lagi kan… Kehidupan di Indonesia ini memang dinamis sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s